Jawa Pos Radar Madiun – Perum Bulog Cabang Madiun kembali memperkuat pasokan minyak goreng rakyat di pasaran.
Sebanyak 9.000 liter MinyaKita didistribusikan kepada pedagang di Pasar Besar Madiun (PBM), Kamis (2/7), sebagai upaya menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan ketersediaan stok bagi masyarakat.
Pemimpin Perum Bulog Cabang Madiun Agung Sarianto mengatakan, penyaluran dilakukan melalui skema Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP).
Saat ini, PBM menjadi satu-satunya pasar di Kota Madiun yang menerima distribusi MinyaKita melalui program tersebut dengan melibatkan 59 pedagang mitra.
"Alhamdulillah hari ini kami melakukan distribusi MinyaKita di PBM. Kami distribusikan 9.000 liter atau sekitar 750 kardus," ujarnya.
Masing-masing pedagang memperoleh alokasi 16 kardus.
Distribusi rutin ini diharapkan mampu menjaga harga jual MinyaKita tetap sesuai harga eceran tertinggi (HET), yakni Rp 15.700 per kemasan.
Agung menjelaskan, saat ini distribusi masih dilakukan satu kali dalam sepekan.
Namun, Bulog tengah mengkaji penambahan frekuensi menjadi dua kali dalam sepekan sekaligus memperluas penyaluran ke Pasar Sleko.
"Biar Pasar Sleko juga bisa kami isi. Saat ini penugasan Bulog memang MinyaKita wajib disalurkan di pasar SP2KP," katanya.
Secara keseluruhan, Bulog Cabang Madiun menyalurkan sekitar 18 ribu liter MinyaKita setiap pekan di wilayah kerjanya.
Ketersediaan stok juga dipastikan mencukupi kebutuhan masyarakat hingga 10–11 pekan ke depan.
Selain menjaga pasokan, Bulog memastikan produk MinyaKita yang beredar di Jawa Timur tidak berasal dari produsen yang sempat dikeluhkan karena dugaan minyak berbau solar di Jawa Tengah.
"Kalau ada yang berbau solar atau tidak seperti minyak goreng pada umumnya, akan kami tarik dari peredaran," tegas Agung.
Sementara itu, pedagang Pasar Besar Madiun Lina Indrawati mengaku alokasi 16 kardus MinyaKita yang diterimanya umumnya habis terjual hanya dalam beberapa hari.
Tingginya permintaan terutama datang dari pelaku UMKM dan pedagang gorengan.
"Yang paling banyak dicari tetap MinyaKita karena harganya paling terjangkau. Minyak merek lain sudah jauh lebih mahal," tandasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto