Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Warga Nambangan Lor Madiun Lestarikan Tradisi Bersih Desa, Ada Nyadran hingga Larungan

Erlita H • Sabtu, 4 Juli 2026 | 02:19 WIB
BUDAYA LOKAL: Warga Kelurahan Nambangan Lor, Kota Madiun, mengikuti prosesi bersih desa yang dirangkai dengan doa keliling kampung, nyadran, dan larungan pada Jumat Legi bulan Sura. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN
BUDAYA LOKAL: Warga Kelurahan Nambangan Lor, Kota Madiun, mengikuti prosesi bersih desa yang dirangkai dengan doa keliling kampung, nyadran, dan larungan pada Jumat Legi bulan Sura. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Tradisi bersih desa tetap lestari di tengah kehidupan masyarakat perkotaan.

Warga Kelurahan Nambangan Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, kembali menggelar ritual tahunan setiap Jumat Legi pada bulan Sura sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus doa memohon keselamatan.

Rangkaian kegiatan berlangsung selama dua hari, Kamis (2/7) hingga Jumat (3/7).

Tradisi diawali dengan pengajian dan wungon atau penuturan sejarah Kelurahan Nambangan Lor.

Setelah itu, warga melaksanakan doa keliling kampung yang dimulai tepat tengah malam.

Ketua Panitia Bersih Desa Nambangan Lor 2026 Bima Aditya mengatakan, tradisi tersebut menjadi bentuk syukur kepada Allah SWT sekaligus ikhtiar memohon keselamatan bagi seluruh warga.

"Istilahnya untuk keselamatan perangkat dan masyarakatnya sendiri. Karena itu, bersih desa selalu kami laksanakan setiap tahun," ujarnya.

Rombongan memulai perjalanan dari kantor kelurahan, kemudian menyusuri Jalan Mayjen Sungkono, Jalan Agus Salim, hingga Jalan Kolonel Marhadi.

Di sejumlah perempatan, rombongan berhenti untuk memanjatkan doa bersama.

"Keliling kampung ini mengelilingi seluruh wilayah Nambangan Lor. Di beberapa pojok kampung dilakukan doa bersama," katanya.

Keesokan paginya, tradisi dilanjutkan dengan prosesi nyadran di Makam Budug yang diyakini sebagai tempat peristirahatan tokoh pembabat Nambangan Lor.

Sebanyak 16 RW masing-masing membawa satu tumpeng, kemudian ditambah satu jodang dari pihak kelurahan.

Usai doa bersama, warga memperebutkan isi jodang yang dipercaya sebagai simbol keberkahan.

Rangkaian bersih desa kemudian ditutup dengan prosesi larungan yang dimulai pukul 13.00 WIB.

Arak-arakan bergerak dari Pendapa Nambangan Lor menuju Jembatan Branjangan dan berakhir di kawasan Pancasoka.

Dalam prosesi tersebut, tiga tumpeng lengkap dengan ingkung serta tujuh ekor bebek dilarung ke sungai sebagai simbol sedekah bumi.

Menurut Bima, angka tujuh dipilih karena berasal dari kata pitu yang bermakna pitulungan atau pertolongan.

"Larungan ini merupakan wujud rasa syukur atas sedekah bumi sekaligus berbagi dengan makhluk hidup lain yang ada di sungai," jelasnya.

Dia berharap tradisi bersih desa terus menjadi perekat kebersamaan masyarakat sekaligus menjaga warisan budaya yang telah dilestarikan secara turun-temurun.

"Harapannya masyarakat, RT, RW, dan perangkat kelurahan tetap hidup guyub rukun," pungkasnya. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
#Bersih Desa Nambangan Lor #tradisi sura #kota madiun #larungan #nyadran