Jawa Pos Radar Madiun – Pemkot Madiun mulai memetakan kebutuhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai dasar penyaluran program bantuan pada 2027.
Bantuan yang disiapkan tidak berupa uang tunai, melainkan peralatan produksi agar usaha masyarakat semakin berkembang.
Plt Wali Kota Madiun F Bagus Panuntun mengatakan, inventarisasi kebutuhan dilakukan saat mengunjungi sejumlah sentra UMKM, mulai produsen madumongso, sambal pecel, hingga kerajinan tangan.
"Insya Allah pada tahun 2027 kami menyiapkan bantuan modal usaha. Tetapi bukan dalam bentuk uang, melainkan peralatan yang dibutuhkan untuk mendukung produksi pelaku UMKM," ujarnya, Kamis (9/7).
Dalam kunjungannya, Bagus memberi perhatian khusus terhadap industri madumongso.
Pasalnya, makanan khas tersebut sedang diusulkan menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTB).
Menurut dia, kesiapan ekosistem produksi menjadi salah satu syarat penting agar usulan tersebut memiliki daya dukung yang kuat.
"Kami sedang menggali potensi produksi madumongso di masing-masing UMKM. Kalau nanti pengembangannya lebih luas, ekosistemnya harus benar-benar siap," katanya.
Bagus optimistis kuliner tradisional tetap memiliki peluang besar di tengah persaingan dengan produk makanan modern.
Menurutnya, masing-masing memiliki segmen pasar yang berbeda sehingga penguatan sektor pariwisata menjadi strategi untuk memperluas pemasaran produk UMKM lokal.
Dia juga menyebut sejumlah pelaku UMKM Kota Madiun telah berhasil memasarkan produknya ke berbagai daerah.
Kondisi itu dinilai menjadi modal penting untuk memperkuat sektor ekonomi kreatif sekaligus memperluas pasar produk lokal.
Di sisi lain, Pemkot Madiun terus mendorong pemasaran digital.
Salah satunya melalui aplikasi khusus bagi ASN yang disiapkan sebagai pasar lokal bagi produk UMKM.
Meski demikian, untuk bersaing di marketplace nasional masih dibutuhkan investasi yang besar sehingga pengembangannya dilakukan secara bertahap sebagai pendukung pemasaran. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto