Kisah Guru SMK di Madiun yang Setia Merawat Wayang Kulit, Berawal dari Jejak Sang Ayah

Erlita H • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 02:45 WIB
Agus Wijanarko menunjukkan wayang kulit hasil karyanya di sela aktivitas mengajar sebagai upaya melestarikan warisan budaya Indonesia. ERLITA HERMININGSIH/RADAR MADIUN
Agus Wijanarko menunjukkan wayang kulit hasil karyanya di sela aktivitas mengajar sebagai upaya melestarikan warisan budaya Indonesia. ERLITA HERMININGSIH/RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun - Di tengah padatnya aktivitas mengajar di sekolah, Agus Wijanarko memiliki cara tersendiri menjaga warisan budaya Indonesia.

Guru berusia 45 tahun asal Kelurahan Winongo, Kota Madiun, itu menghabiskan waktu luangnya dengan membuat wayang kulit, sebuah seni tradisi yang menurutnya perlu terus dikenalkan kepada generasi muda.

Kecintaannya terhadap dunia pewayangan bukan muncul begitu saja.

Sejak kecil, Agus telah akrab dengan pertunjukan wayang berkat sang ayah yang merupakan pemain wayang orang.

Pengalaman itulah yang kemudian menumbuhkan minatnya terhadap sejarah sekaligus budaya Nusantara.

Agus mengaku kegemarannya mempelajari sejarah menjadi pintu masuk untuk mengenal dunia pewayangan lebih dalam.

Apalagi, ayahnya, Sutrisno, kerap mengajaknya menyaksikan pertunjukan wayang orang saat masih kecil.

''Saya memang sejak kecil suka sejarah. Bapak juga pemain wayang orang, jadi sering diajak melihat pertunjukan. Dari situ saya jadi menyukai dunia wayang,'' ujarnya, kemarin (19/7).

Awalnya, Agus tidak langsung menekuni wayang kulit. Ia justru tertarik mengembangkan wayang beber sebagai inspirasi motif batik.

Keinginan itu membawanya mengikuti pelatihan pembuatan wayang beber di Pacitan pada 2024.

Namun, pengalaman tersebut justru membuka ketertarikannya terhadap seni pembuatan wayang kulit.

Sejak saat itu, ia mulai mendalami teknik tatah dan sungging hingga akhirnya menghasilkan karya pertamanya.

Tokoh Semar menjadi wayang kulit pertama yang berhasil diselesaikan Agus.

Setelah itu, ia membuat Puntadewa dan terus mengembangkan keterampilannya.

Hasil karyanya mulai dikenal dan mendapat pesanan dari berbagai kalangan.

Salah satunya datang dari mantan Ketua TP PKK Kota Madiun, Yuni Maidi, yang memesan tokoh Nakula dan Sadewa.

Membuat satu tokoh wayang kulit bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam hitungan hari.

Agus membutuhkan waktu sekitar tiga pekan hingga dua bulan, tergantung tingkat kerumitan motif.

Tahapan pengerjaannya meliputi  membuat pola tokoh wayang, menatah kulit sesuai desain, menyungging atau memberi warna, dan memasang gapit sebagai pegangan wayang.

Menurut Agus, proses menatah menjadi bagian paling menantang karena membutuhkan ketelitian tinggi.

''Kalau salah menatah, kulit bisa langsung rusak. Memang bisa disambung, tetapi prosesnya rumit,'' katanya.

Untuk menjaga kualitas, Agus masih mendatangkan kulit sebagai bahan baku dari Ponorogo.

Selain itu, ia juga mulai membuat wayang berbahan alternatif agar harganya lebih terjangkau bagi masyarakat.

Harga wayang buatannya bervariasi, mulai sekitar Rp150 ribu hingga Rp3 juta, bergantung pada ukuran, jenis bahan, serta tingkat kerumitan pengerjaan.

Bagi Agus, membuat wayang kulit bukan semata-mata untuk memperoleh tambahan penghasilan.

Ada misi yang lebih besar, yakni mengenalkan kembali nilai-nilai budaya kepada generasi muda di tengah derasnya perkembangan zaman.

Ia berharap anak-anak muda tidak hanya mengenal tokoh pewayangan, tetapi juga memahami pesan moral yang terkandung dalam setiap kisahnya.

''Wayang memiliki banyak pesan moral dan sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Jangan sampai generasi muda melupakannya,'' pungkasnya. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
Agus Wijanarko UNESCO Warisan Budaya kota madiun wayang kulit budaya indonesia