BI Wanti-Wanti Inflasi Madiun, El Nino dan Konflik Global Bisa Dongkrak Harga Pangan

Erlita H • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 19:20 WIB
WASPADAI INFLASI: Bank Indonesia mengingatkan potensi kenaikan inflasi di Kota Madiun pada semester II 2026. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN
WASPADAI INFLASI: Bank Indonesia mengingatkan potensi kenaikan inflasi di Kota Madiun pada semester II 2026. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Bank Indonesia (BI) mengingatkan potensi kenaikan inflasi di Kota Madiun pada semester II 2026.

Jika tidak terkendali, inflasi dikhawatirkan menggerus pertumbuhan ekonomi sekaligus menekan daya beli masyarakat.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kediri Deasi Surya Andarina mengatakan, tingkat inflasi Kota Madiun pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,37 persen.

Angka tersebut diperkirakan masih berpotensi meningkat pada triwulan III hingga IV akibat tekanan dari sektor pangan dan energi.

"Jangan sampai pertumbuhan ekonomi yang baik justru tergerus oleh inflasi. Yang harus dijaga adalah pertumbuhan ekonomi tetap tinggi dengan inflasi yang rendah dan stabil sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga," ujarnya, Kamis (23/7).

Menurut Deasi, terdapat dua faktor utama yang perlu diantisipasi.

Pertama, fenomena El Nino yang berpotensi menurunkan produksi sejumlah komoditas pangan seperti beras, cabai rawit, dan bawang merah.

Kedua, ketidakpastian geopolitik global yang dapat memicu kenaikan harga minyak dunia.

Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak pada bahan bakar minyak (BBM), tetapi juga meningkatkan biaya distribusi dan harga pupuk.

Kondisi tersebut berpotensi memicu kenaikan harga berbagai komoditas pangan.

"Konflik geopolitik dapat mendorong kenaikan harga minyak dan BBM. Dampaknya merembet ke biaya distribusi, harga pupuk, hingga komoditas pangan," katanya.

Meski demikian, BI menilai fondasi perekonomian Kota Madiun masih tergolong kuat.

Pada triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi Kota Madiun mencapai 5,45 persen.

Meski sedikit di bawah angka nasional yang sebesar 5,61 persen, capaian tersebut masih dinilai kompetitif dibandingkan daerah sekitar.

Dalam tiga tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Kota Madiun juga relatif konsisten berada di atas lima persen.

Bahkan, pada triwulan II 2025 sempat menyentuh angka 6,35 persen.

Karena itu, Deasi menekankan pentingnya pengendalian inflasi agar tren pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

Ia mendorong Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) terus memperkuat sinergi.

"Harapannya inflasi dapat ditekan, sementara pertumbuhan ekonomi tetap meningkat sehingga perekonomian Kota Madiun terus bergerak positif," tandasnya. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
Inflasi Bank Indonesia kota madiun el nino