Warga Rejomulyo Madiun Sulap Sampah Organik Jadi Pupuk dan Eco Enzyme

Erlita H • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 08:00 WIB
RAMAH LINGKUNGAN: Warga RW 5 Kelurahan Rejomulyo mengolah limbah organik menjadi pupuk organik cair, eco enzyme, dan kompos melalui Program Kampung Iklim. DISKOMINFO KOTA MADIUN
RAMAH LINGKUNGAN: Warga RW 5 Kelurahan Rejomulyo mengolah limbah organik menjadi pupuk organik cair, eco enzyme, dan kompos melalui Program Kampung Iklim. DISKOMINFO KOTA MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Sampah rumah tangga di RW 5 Kelurahan Rejomulyo, Kota Madiun, tak lagi seluruhnya berakhir di tempat pembuangan sampah.

Melalui Program Kampung Iklim (Proklim), warga mengolah limbah organik menjadi pupuk organik cair (POC), eco enzyme, dan kompos untuk mendukung pertanian serta perikanan di lingkungan setempat.

Ketua Proklim RW 5 Rejomulyo Setyono mengatakan, pengelolaan sampah dimulai dari proses pemilahan di tingkat rumah tangga.

Air cucian beras difermentasi menjadi pupuk organik cair, sedangkan sisa sayuran, kulit buah, daun kering, hingga kulit telur diolah menjadi kompos maupun eco enzyme.

"Kami mulai dari rumah. Sampah yang masih bisa dimanfaatkan diolah agar tidak semuanya berakhir di TPS atau TPA," ujarnya, kemarin (28/7).

Hasil olahan tersebut dimanfaatkan untuk menyuburkan Pekarangan Pangan Lestari (P2L).

Di kawasan itu, warga membudidayakan berbagai tanaman, seperti cabai, terong, pepaya Jepang, hingga aneka tanaman buah.

Selain itu, kelompok Proklim juga mengembangkan budidaya ikan lele, nila, dan gurami yang hasilnya dikonsumsi maupun dijual kepada masyarakat.

Setyono menjelaskan, sampah rumah tangga dipilah menjadi tiga kategori, yakni organik, anorganik, dan bahan berbahaya serta beracun (B3).

Sampah anorganik disalurkan ke bank sampah atau diolah menjadi kerajinan dan ecobrick, sedangkan sampah residu dibuang ke tempat pembuangan sementara (TPS).

Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, edukasi mengenai pengelolaan sampah dilakukan secara rutin melalui kegiatan PKK, dasawisma, dan pertemuan warga.

Meski sempat mendapat penolakan di awal pelaksanaan, kini semakin banyak warga yang terlibat setelah merasakan manfaatnya bagi lingkungan maupun hasil panen.

Setiap Minggu, sebanyak 26 anggota Kelompok P2L bergotong royong mengolah limbah organik menjadi pupuk sekaligus merawat tanaman.

Warga juga memanfaatkan galon dan drum bekas sebagai wadah fermentasi sehingga biaya pengolahan tetap efisien.

"Kalau gerakan ini diterapkan lebih luas, beban sampah yang masuk ke TPS dan TPA bisa berkurang," tegasnya. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
kota madiun rejomulyo proklim Pupuk Organik Cair