Hebat! Peneliti Madiun Ubah Limbah MBG Jadi Biodiesel, Teknologinya Dilirik Nigeria

Erlita H • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 11:40 WIB
OLAH LIMBAH JADI ENERGI: Peneliti independen Cahya Yudi Widianto menunjukkan proses produksi biodiesel BM-100 berbahan baku limbah organik di Manguharjo, Kota Madiun. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN
OLAH LIMBAH JADI ENERGI: Peneliti independen Cahya Yudi Widianto menunjukkan proses produksi biodiesel BM-100 berbahan baku limbah organik di Manguharjo, Kota Madiun. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Limbah makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan sampah organik rumah tangga berpotensi menjadi sumber energi terbarukan.

Peneliti independen asal Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, Cahya Yudi Widianto, berhasil mengembangkan biodiesel BM-100 berbahan baku limbah organik dan bersiap memasuki tahap produksi skala industri.

Cahya mengatakan, riset yang telah berlangsung sekitar empat bulan itu kini memasuki tahap akhir.

Fasilitas penelitian di Jalan Sawahan, Kelurahan Manguharjo, Kota Madiun, akan ditingkatkan menjadi rumah industri dengan target produksi mencapai 1.000 liter biodiesel per hari.

"Indonesia memiliki limbah pasar dan rumah tangga yang sangat besar. Dari situlah kami mengembangkan teknologi pembuatan solar dari limbah," ujarnya, Kamis (30/7).

Baca Juga: Cegah Karhutla, Firebreak 1,8 Kilometer Dibangun di Lereng Gunung Lawu

BM-100 merupakan biodiesel yang seluruh bahan bakunya berasal dari sumber nabati.

Bahan baku tersebut meliputi limbah makanan, minyak jelantah, nasi, telur, hingga sisa makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Berdasarkan hasil uji coba, satu kilogram limbah mampu menghasilkan sekitar satu liter biodiesel.

Dalam proses produksinya, limbah organik diolah melalui tahapan pemanasan, penghancuran, dan fermentasi hingga menghasilkan free fatty acid (FFA) sebagai bahan baku biodiesel.

Untuk minyak jelantah, proses produksi membutuhkan waktu sekitar 24 jam, sedangkan limbah makanan memerlukan waktu sekitar 10 hari.

Baca Juga: Aturan Biodiesel B50 Sudah Berlaku, Ini Dampaknya untuk Mesin Mobil Anda

Cahya mengungkapkan, biodiesel hasil penelitiannya telah diuji coba pada mobil maupun truk dengan hasil yang memuaskan. Pihaknya menargetkan mampu mengolah sedikitnya tiga ton limbah MBG per hari.

Selain menjadi alternatif energi terbarukan, inovasi tersebut diharapkan mampu mengurangi volume sampah organik yang selama ini berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Karena itu, Cahya mendorong masyarakat mulai memilah sampah organik sejak dari rumah agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku energi.

"Harapannya tidak ada lagi penumpukan sampah karena limbah makanan bisa diolah menjadi energi," katanya.

Menurut Cahya, harga pokok produksi biodiesel BM-100 diperkirakan sekitar Rp12 ribu per liter.

Baca Juga: Radar Madiun Buktikan Komitmen, Siap Terus Kawal Kemajuan Pendidikan Daerah

Sejumlah pelaku industri bahkan telah menyatakan minat membeli produk tersebut dengan harga sekitar Rp16 ribu per liter.

Pengembangan teknologi BM-100 juga mulai menarik perhatian dari luar negeri.

Nigeria disebut berminat mengadopsi teknologi tersebut dengan memanfaatkan bahan baku limbah lokal.

Dalam pengembangannya, Cahya turut menggandeng akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Brawijaya (UB).

"Pengembangan BM-100 turut melibatkan akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Brawijaya (UB)," ungkapnya. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
biodiesel limbah MBG BM-100 kota madiun bahan bakar