TPA Winongo Nyaris Overload, Warga Kota Madiun Diminta Pilah Sampah dari Rumah

Erlita H • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 14:45 WIB
KURANGI BEBAN TPA: Program pilah sampah dari rumah diharapkan mampu menekan volume sampah yang masuk ke TPA Winongo hingga 30 persen. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN
KURANGI BEBAN TPA: Program pilah sampah dari rumah diharapkan mampu menekan volume sampah yang masuk ke TPA Winongo hingga 30 persen. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Pemkot Madiun mulai mengubah pola pengelolaan sampah dengan mendorong masyarakat memilah sampah sejak dari rumah.

Langkah tersebut ditargetkan mampu mengurangi sedikitnya 30 persen volume sampah yang selama ini dibuang ke TPA Winongo.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Madiun Feti Indriani Ariyanti mengatakan, saat ini timbulan sampah di Kota Madiun mencapai sekitar 120 ton per hari.

Seluruhnya masih dibuang ke TPA Winongo yang kondisinya nyaris penuh.

"Kami berharap dengan pilah sampah dari rumah, paling tidak 30 persen sampah sudah bisa dikurangi di tingkat masyarakat," ujarnya, Sabtu (1/8).

Untuk mendukung program tersebut, DLH menerapkan sistem pengangkutan berdasarkan jenis sampah.

Sampah organik dijadwalkan diangkut setiap Senin, Selasa, Rabu, Jumat, dan Sabtu.

Sedangkan sampah anorganik diangkut setiap Kamis dan Minggu.

Menurut Feti, pola itu diterapkan karena sampah anorganik tidak mudah menimbulkan bau sehingga masih dapat disimpan sementara di rumah sebelum diangkut petugas.

Selain pemilahan di tingkat rumah tangga, penyortiran juga dilakukan di tempat penampungan sementara (TPS).

Sampah organik yang masih bernilai guna akan diolah menjadi kompos sehingga volume sampah yang masuk ke TPA terus berkurang.

"Harapannya tidak semua sampah lagi dibuang ke TPA seperti selama ini," katanya.

Program tersebut diperkuat dengan bantuan keuangan Rp 10 juta untuk setiap RT.

Dana itu digunakan untuk operasional kelompok masyarakat (pokmas), administrasi, honor tenaga pengolah sampah, hingga pengadaan sarana dan prasarana pendukung.

Sekitar 30 persen anggaran dialokasikan untuk honor tenaga pengolah sampah, sedangkan 70 persen lainnya digunakan untuk pengadaan peralatan.

Seluruh penggunaan dana akan diawasi karena bersumber dari keuangan negara.

"Dengan program ini diharapkan Kota Madiun terlepas dari status darurat sampah. Memang seperti itu yang kami harapkan," tandasnya. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
pilah sampah DLH Kota Madiun darurat sampah TPA Winongo