Jawa Pos Radar Madiun - Delapan mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) menghadirkan visual mapping bertajuk Wekasan.
Karya tersebut mengangkat isu memudarnya permainan tradisional di tengah pesatnya perkembangan gim modern.
Creative Director Tim Kilas, Revianda Maulana Soni Putra, mengatakan judul Wekasan dipilih karena bermakna penghujung atau akhir.
Filosofi itu menggambarkan semakin berkurangnya eksistensi permainan tradisional di tengah perubahan zaman.
"Judul ini kami pilih untuk menggambarkan permainan tradisional yang perlahan ditinggalkan karena masyarakat, terutama anak-anak, beralih ke permainan modern," ujarnya, Minggu (2/8).
Visual mapping itu mengusung tema transformasi.
Penonton diajak menyaksikan perjalanan berbagai permainan tradisional, seperti layang-layang, naga Jawa, jaran kepang, wayang kulit, hingga mobil-mobilan dari kulit jeruk sebelum memasuki dunia futuristik yang dipenuhi permainan modern.
Perubahan zaman divisualisasikan melalui layang-layang tiga dimensi yang menembus gerbang menuju masa depan.
Adegan kemudian berlanjut dengan mesin capit (claw machine) berisi aneka permainan modern sebagai simbol bergesernya budaya bermain anak.
"Perbedaan warna antara permainan tradisional dan modern sengaja dibuat kontras agar pergeseran zaman terlihat jelas," jelas mahasiswa DKV UM tersebut.
Karya itu dikerjakan selama sekitar tiga pekan oleh delapan mahasiswa.
Tantangan terbesar berada pada proses compositing, yakni menyatukan aset animasi dua dimensi, tiga dimensi, dan efek visual agar tampil harmonis dalam satu pertunjukan.
Bagi Revianda, pengalaman tersebut menjadi bekal untuk terus mengembangkan kemampuan di bidang visual mapping.
Dia berharap karya Wekasan dapat mengingatkan masyarakat bahwa permainan tradisional menyimpan nilai kebersamaan dan budaya yang layak diwariskan kepada generasi berikutnya.
"Jangan takut mencoba dan terus bereksplorasi. Kami berharap karya kami dapat mengingatkan masyarakat bahwa permainan tradisional menyimpan nilai kebersamaan dan budaya yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya," paparnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto