BMKG: Madiun Raya Masuk Zona Kering, Waspadai Kekeringan dan Karhutla

Erlita H • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 11:15 WIB
ASAP PEKAT: Petugas Damkar memadamkan kebakaran lahan di kawasan Ring Road Kota Madiun saat musim kemarau mulai memicu peningkatan risiko karhutla.
ASAP PEKAT: Petugas Damkar memadamkan kebakaran lahan di kawasan Ring Road Kota Madiun saat musim kemarau mulai memicu peningkatan risiko karhutla.

Jawa Pos Radar Madiun – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Madiun Raya untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau.

Berdasarkan pemantauan per 31 Juli, wilayah Madiun Raya masuk kategori hari tanpa hujan (HTH) panjang hingga ekstrem yang berpotensi memicu kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan (karhutla).

Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Madya BMKG Stasiun Geofisika Nganjuk Setiyaris mengatakan, wilayah barat Jawa Timur menjadi kawasan yang paling perlu mewaspadai dampak musim kemarau.

"Wilayah Madiun termasuk daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan berdasarkan peta monitoring HTH," ujarnya, Senin (3/8).

Selain Madiun, kondisi serupa juga terjadi di Ngawi, Magetan, Ponorogo, Nganjuk, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Jombang, Kediri, dan Blitar.

Sebagian besar wilayah tersebut mengalami HTH kategori sangat panjang, yakni 31–60 hari, bahkan sebagian telah masuk kategori ekstrem.

Menurut Setiyaris, minimnya curah hujan pada dasarian III Juli membuat kondisi kering masih berlanjut.

Dampaknya mulai dirasakan pada berkurangnya ketersediaan air, terganggunya sektor pertanian, hingga meningkatnya potensi karhutla.

"Hari tanpa hujan yang panjang berpotensi memicu kekurangan air, mengganggu pertanian, dan meningkatkan risiko kebakaran hutan maupun lahan," katanya.

BMKG memprediksi kondisi tersebut masih berlanjut pada dasarian I Agustus dengan peluang curah hujan rendah mencapai sekitar 90 persen.

Meski Monsun Australia mulai melemah dan fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) berpotensi memicu hujan lokal, intensitasnya dinilai belum cukup untuk mengakhiri musim kemarau.

"Hujan diperkirakan hanya terjadi secara lokal dan tidak merata, sehingga belum signifikan mengurangi kondisi kekeringan," pungkasnya. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
madiun raya karhutla kekeringan bmkg