Jawa Pos Radar Madiun – Cabdindik Jatim Wilayah Madiun bersama Lapas Kelas I Madiun membuka akses pendidikan formal bagi warga binaan usia sekolah.
Program tersebut memberikan kesempatan bagi warga binaan untuk menempuh pendidikan setara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan kompetensi Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL).
Kepala Cabdindik Jawa Timur Wilayah Madiun, Lena, mengatakan program ini bertujuan memenuhi hak pendidikan bagi warga binaan yang belum menyelesaikan pendidikan jenjang menengah.
"Warga binaan berusia maksimal 21 tahun diberi kesempatan menempuh pendidikan setara SMK," ujarnya, Selasa (4/8).
Selain memperoleh pendidikan formal, peserta juga akan mendapatkan keterampilan dasar di bidang kelistrikan sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat.
Setelah menyelesaikan masa pendidikan selama tiga tahun, peserta akan memperoleh ijazah resmi setara SMK.
"Setelah menyelesaikan pendidikan selama tiga tahun, mereka akan memperoleh ijazah resmi," katanya.
Kepala SMKS YP 17 1 Madiun, Imam Rahman Ramli, menjelaskan sekolahnya ditunjuk sebagai mitra penyelenggara program.
Dari 22 warga binaan berusia di bawah 21 tahun yang didata, hanya 10 orang memenuhi persyaratan setelah proses verifikasi karena peserta lainnya telah lulus SMA atau SMK.
Pembelajaran akan dilaksanakan di dalam Lapas Kelas I Madiun dengan tenaga pengajar yang datang langsung ke lokasi.
"Peserta yang mengikuti program merupakan lulusan SMP atau MTs. Pembelajaran dilakukan di dalam lapas dengan guru yang datang langsung ke lokasi," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas I Madiun Fajar Nur Cahyono menilai pendidikan merupakan bagian penting dari proses pembinaan warga binaan.
Menurutnya, bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan akan membantu mereka beradaptasi kembali setelah menyelesaikan masa pidana.
"Pendidikan merupakan investasi dalam pembinaan. Kami ingin warga binaan memiliki ilmu, keterampilan, dan kepercayaan diri untuk memulai kehidupan yang lebih baik setelah menjalani masa pidana," ujarnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto