Meski Deflasi, Kota Madiun Waspadai Lonjakan Inflasi Jelang Akhir 2026

Erlita H • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 14:15 WIB
Kepala BPS Kota Madiun Abdul Aziz. (ERLITA HERMININGSIH/RADAR MADIUN)
Kepala BPS Kota Madiun Abdul Azis menyampaikan potensi kenaikan inflasi menjelang akhir tahun meski Juli masih mengalami deflasi. Foto: Bagas Bimantara/Jawa Pos Radar Madiun

Jawa Pos Radar Madiun – Deflasi 0,12 persen pada Juli belum membuat Pemkot Madiun lengah.

Tekanan inflasi diperkirakan kembali meningkat pada akhir tahun seiring potensi El Nino, berakhirnya panen raya, dan naiknya permintaan saat Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Kepala BPS Kota Madiun Abdul Azis mengatakan, berdasarkan data historis, inflasi cenderung meningkat pada triwulan IV, terutama Oktober hingga Desember.

"Kalau melihat data historis, inflasi biasanya meningkat pada Oktober hingga Desember. Karena itu perlu diantisipasi sejak sekarang agar tetap terkendali," ujarnya, Rabu (5/8).

Menurut Azis, potensi El Nino yang diprediksi BMKG juga perlu diwaspadai karena berisiko mengganggu produksi pertanian.

Jika pasokan pangan menurun, harga komoditas berpotensi meningkat.

Meski harga bensin sempat naik pada Juli, dampaknya terhadap inflasi dinilai masih terbatas karena masuk kategori administered prices atau harga yang diatur pemerintah.

"Kalau Agustus tidak ada penyesuaian harga bensin, komoditas itu diperkirakan tidak menjadi pendorong inflasi," katanya.

Sementara itu, Kabag Perekonomian dan Kesra Setda Kota Madiun Danang Novianto menjelaskan, deflasi Juli dipicu turunnya harga bawang merah hingga 29,60 persen akibat panen raya.

Penurunan harga komoditas tersebut menjadi penyumbang terbesar deflasi, meski kenaikan rata-rata harga bensin sebesar 1,56 persen masih menahan laju penurunan.

Danang memastikan stok Pertalite di Kota Madiun aman hingga akhir tahun.

Namun, pemerintah tetap mengantisipasi potensi kenaikan biaya energi dan harga pangan setelah panen raya berakhir.

"Begitu panen raya selesai dan harga bawang kembali normal, tekanan dari biaya transportasi maupun komoditas lain bisa kembali mendorong inflasi," pungkasnya. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
ekonomi Inflasi deflasi BPS Kota Madiun