Jawa Pos Radar Madiun – Musim kemarau meningkatkan ancaman kebakaran lahan di Kota Madiun.
Sepanjang Juli saja, tercatat 18 kejadian kebakaran lahan. Kondisi lingkungan yang mengering membuat percikan api kecil berpotensi memicu kebakaran.
Pemkot Madiun pun meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan.
Terutama warga yang tinggal di kawasan dengan banyak lahan persawahan maupun kebun.
Imbauan tersebut disampaikan Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun saat membuka Sosialisasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Kebencanaan di Lapangan Kanigoro, Kecamatan Kartoharjo, Kamis (6/8).
Bagus mengatakan, Kota Madiun memang bukan termasuk wilayah dengan tingkat kerawanan bencana tinggi.
Namun, kondisi tersebut tidak boleh membuat masyarakat lengah. Pengetahuan mengenai mitigasi tetap diperlukan karena bencana dapat terjadi sewaktu-waktu.
’’Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun. Masyarakat harus terus diingatkan mengenai langkah yang harus dilakukan ketika terjadi bencana,’’ ujarnya.
Ancaman kebakaran lahan menjadi salah satu yang mendapat perhatian selama musim kemarau.
Kondisi lahan yang kering membuat api lebih mudah muncul dan menjalar.
’’Wilayah yang banyak sawah dan kebun perlu dijaga. Kondisi yang kering membuat lahan sangat mudah terbakar hanya karena percikan api kecil,’’ katanya.
Berdasarkan data Satpol PP dan Damkar Kota Madiun, sepanjang Juli tercatat 18 kejadian kebakaran lahan.
Angka tersebut menjadi alarm agar masyarakat lebih berhati-hati terhadap aktivitas yang berpotensi menimbulkan api.
Warga diminta tidak sembarangan membakar sampah, terutama di sekitar lahan kering.
Puntung rokok yang masih menyala juga tidak boleh dibuang sembarangan karena berpotensi menjadi pemicu kebakaran.
’’Kalau tidak ada sumber api, tentu tidak akan terjadi kebakaran. Yang harus diimbau adalah masyarakatnya agar lebih berhati-hati,’’ tegas Bagus.
Sementara itu, Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Madiun Bambang Agung Hariadi mengatakan, sosialisasi KIE kebencanaan menyasar tiga kecamatan. Yakni, Taman, Kartoharjo, dan Manguharjo.
Masing-masing kecamatan melibatkan sekitar 150 peserta dari berbagai unsur masyarakat.
Mulai karang taruna, linmas, perguruan pencak silat, hingga organisasi kepemudaan.
Para peserta mendapat pembekalan mengenai penanganan bencana secara menyeluruh.
Mulai langkah yang harus dilakukan pada tahap prabencana, ketika bencana terjadi, hingga penanganan pascabencana.
’’Bencana adalah urusan bersama, bukan hanya pemerintah atau BPBD. Masyarakat juga memiliki peran penting dalam penanggulangan bencana,’’ tandas Bambang. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto