Jawa Pos Radar Madiun – Kemarau panjang mulai diantisipasi di Kota Madiun.
Meski belum ada wilayah yang mengalami krisis air bersih, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyiagakan dua tangki air dengan total kapasitas 10 ribu liter.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi dampak musim kemarau dan menguatnya fenomena El Nino.
Dua tangki yang disiapkan masing-masing mampu mengangkut 5.000 liter air bersih.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Madiun Bambang Agung Hariadi mengatakan, sejauh ini kondisi pasokan air di seluruh wilayah masih aman. Belum ada permintaan dropping air bersih dari masyarakat.
’’Alhamdulillah, sampai saat ini belum ada daerah di Kota Madiun yang membutuhkan distribusi air bersih,’’ ujarnya, Sabtu (8/8).
Meski demikian, BPBD tidak ingin kecolongan.
Pemantauan terus dilakukan untuk mendeteksi sedini mungkin munculnya wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih.
Pengawasan melibatkan Tim Reaksi Cepat (TRC), pihak kelurahan, relawan kebencanaan, hingga tokoh masyarakat.
Jejaring tersebut diharapkan dapat mempercepat penyampaian informasi apabila kondisi sumber air mulai menurun.
Masyarakat juga diminta aktif melaporkan tanda-tanda kekurangan air di lingkungannya.
Laporan tersebut akan menjadi dasar BPBD melakukan pengecekan sekaligus menentukan kebutuhan penanganan.
’’Kalau ada lokasi yang menunjukkan potensi kekeringan, segera diinformasikan,’’ kata Bambang.
Kota Madiun bukan tanpa pengalaman menghadapi kekeringan.
Menurut Bambang, krisis air terakhir terjadi pada 2024 dengan dampak dirasakan warga Kelurahan Tawangrejo dan Kelun.
Saat itu, persoalan dipicu pasokan air dari sumur bor di kawasan pertanian.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu pertimbangan BPBD menyiapkan armada dan personel lebih dini pada musim kemarau tahun ini.
’’Selain armada tangki, kami juga telah menyiagakan personel untuk distribusi air bersih jika sewaktu-waktu dibutuhkan,’’ tandasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto