Beksan Parisuko, Karya Ninik Sulistyowati yang Abadikan Tradisi Bersih Desa Madiun

Erlita H • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:05 WIB
LESTARIKAN TRADISI: Ninik Sulistyowati mengajarkan Beksan Parisuko, karya tari yang terinspirasi tradisi bersih desa dan kini menjadi aset budaya Kota Madiun. (Bagas Bimantara/Jawa Pos Radar Madiun)
LESTARIKAN TRADISI: Ninik Sulistyowati mengajarkan Beksan Parisuko, karya tari yang terinspirasi tradisi bersih desa dan kini menjadi aset budaya Kota Madiun. (Bagas Bimantara/Jawa Pos Radar Madiun)

Jawa Pos Radar Madiun - Tradisi bersih desa tak berhenti pada ritual dan tasyakuran warga.

Di tangan Ninik Sulistyowati, kegembiraan dan rasa syukur selepas panen diterjemahkan menjadi Beksan Parisuko. Sebuah karya tari yang kini menjadi aset budaya Kota Madiun.

-----------------------------------

GEMULAI gerak Beksan Parisuko menyimpan cerita tentang kehidupan masyarakat.

Ada kegembiraan selepas panen, ungkapan syukur atas hasil bumi, hingga semangat gotong royong yang lekat dalam tradisi bersih desa.

Tarian tersebut lahir dari tangan Ninik Sulistyowati pada 2017. Inspirasinya bermula ketika Kota Madiun mengikuti Festival Karya Tari dengan tema adat daerah.

Ninik memilih tradisi bersih desa yang masih lestari di sejumlah kelurahan sebagai pijakan karyanya.

Dia melihat tradisi tersebut bukan hanya ritual, tetapi juga ruang masyarakat merayakan kebersamaan.

’’Setelah bersyukur atas hasil tanaman dan pertaniannya, malam harinya biasanya dilanjutkan dengan hiburan tayub,’’ ujar Ninik saat mengajarkan Beksan Parisuko dalam Madiun Menari di Pahlawan Business Center (PBC), kemarin (10/8).

Tradisi tersebut lantas diterjemahkan Ninik menjadi tari tunggal perempuan.

Setiap gerak menggambarkan kegembiraan dan rasa syukur masyarakat setelah menikmati hasil panen, sekaligus menyelipkan semangat kebersamaan.

Nama Parisuko dipilih untuk merepresentasikan karakter karya tersebut.

Beksan berarti tari, sedangkan parisuko dimaknai sebagai bergembira atau bersukacita.

’’Intinya mengambil sukacita dari adat bersih desa sebagai ungkapan rasa syukur atas tanaman padi. Gotong royong juga tampak dalam tarian tersebut,’’ terang perempuan 58 tahun itu.

Dalam perkembangannya, Beksan Parisuko tak hanya dipentaskan dalam acara tasyakuran. Tarian tersebut juga dapat menjadi tari penyambutan tamu.

Hak cipta Beksan Parisuko pun telah tercatat sebagai aset budaya Pemkot Madiun.

Ninik justru berharap tarian itu dipelajari dan ditarikan seluas-luasnya oleh masyarakat.

’’Jadi, bukan hanya milik Bu Ninik, tetapi sudah menjadi aset Pemerintah Kota Madiun. Siapa saja boleh belajar dan menarikan,’’ katanya.

Perjalanan Ninik bersama dunia tari jauh lebih panjang dibanding usia Beksan Parisuko. Dia mulai berkarya sejak mengikuti Festival Karya Tari pada 1989.

Puluhan tahun berikutnya, berbagai karya lahir dari tangannya. Di antaranya Sekar Arum (Mataraman), Retno Tinanggih, Solah Madiunan, Janur Kuning, dan Retno Piniloh.

Ada pula Tarung Ronggolawe, Tonggo Rawang, Tunduk Manik, Catur Batoro Katong, hingga Gembrung Kibar yang pernah dibawa ke berbagai panggung.

Tunduk Manik bahkan menyabet predikat penyaji terbaik pada 1992.

Kedekatan Ninik dengan seni tari juga ditempa melalui pendidikan.

Dia pernah belajar tari di SMKI Surabaya sebelum melanjutkan pendidikan S1 Sastra Indonesia di UNIPMA.

Sejak 1994, Ninik mengabdikan diri sebagai PNS. Jabatan terakhirnya adalah Kabid Kebudayaan Disbudparpora Kota Madiun sebelum memasuki masa purna tugas pada Agustus ini.

Pensiun dari birokrasi bukan berarti menanggalkan kecintaannya terhadap tari.

Baginya, tari tak sebatas tontonan di atas panggung, melainkan medium untuk menjaga ingatan tentang tradisi dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Beksan Parisuko menjadi salah satu jejak itu. Sebuah cerita tentang rasa syukur masyarakat yang dipindahkan dari ritual bersih desa ke dalam gerak tubuh.

’’Pesan yang ingin disampaikan adalah bentuk kegembiraan dan rasa syukur. Kalau kita bersyukur pasti kita senang. Kami ingin mengajak masyarakat melalui tari supaya ikut merasakan kegembiraan,’’ tuturnya. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
madiun menari Beksan Parisuko Ninik Sulistyowati kota madiun