Jawa Pos Radar Madiun – Pasokan MinyaKita di pasar tradisional Kota Madiun terus diperkuat.
Ribuan liter minyak goreng bersubsidi pemerintah itu digelontorkan secara berkala untuk menjaga ketersediaan sekaligus menahan harga di tingkat konsumen.
Distribusi melibatkan Bulog, Rajawali Nusindo Indonesia (RNI), dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI).
Pasokan menyasar sejumlah pasar tradisional, mulai Pasar Besar Madiun (PBM), Pasar Sleko, hingga Pasar Kojo.
Analis Perdagangan Ahli Muda Dinas Perdagangan Kota Madiun Tri Prasetyaningrum mengatakan, Bulog memiliki jadwal distribusi rutin setiap Rabu dan Kamis di PBM. Sedangkan Pasar Sleko mendapat pasokan setiap Rabu.
Teranyar, Bulog menggelontorkan 750 dus atau sekitar 9.000 liter MinyaKita. Setiap pedagang mendapatkan alokasi sekitar 23 dus.
’’Distribusi diupayakan rutin agar ketersediaan tetap terjaga,’’ ujar Tri, Rabu (12/8).
Pasokan MinyaKita juga datang dari RNI dan PPI. Kedua BUMN tersebut masing-masing mendistribusikan sekitar 450 dus kepada pedagang di PBM.
Sementara, Pasar Sleko mendapatkan sekitar 150 dus. PPI juga memasok sebanyak 75 dus MinyaKita ke Pasar Kojo.
Berbeda dengan Bulog, distribusi dari RNI dan PPI belum memiliki jadwal tetap.
Frekuensi pengiriman masih menyesuaikan ketersediaan pasokan dari produsen.
’’Diupayakan distribusinya bisa rutin, setidaknya satu sampai dua kali dalam sebulan,’’ katanya.
Saat ini, sekitar 49 pedagang tercatat sebagai penerima alokasi MinyaKita di PBM.
Kemudian, 26 pedagang di Pasar Sleko dan dua pedagang di Pasar Kojo.
Pembagian kuota disesuaikan dengan jumlah pasokan yang tersedia.
Dinas perdagangan meminta distribusi dilakukan secara proporsional agar tidak terjadi kesenjangan antarpenjual.
’’Prinsipnya harus rata, berkeadilan, dan berkelanjutan. Jangan sampai ada kecemburuan atau kesenjangan antarpedagang,’’ tegas Tri.
Tak hanya memastikan pasokan, pengawasan harga MinyaKita turut diperketat.
Pedagang diwanti-wanti tidak menjual minyak goreng tersebut melampaui harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp 15.700 per liter.
Sementara itu, harga tebus MinyaKita dari Bulog berada di kisaran Rp 14.500 per liter.
Dinas perdagangan rutin mengingatkan pedagang agar tidak memainkan harga di tingkat konsumen.
’’Hampir setiap hari saya mengingatkan melalui grup WhatsApp pedagang agar menjual sesuai HET,’’ ungkapnya.
Pedagang juga diminta mengatur penjualan agar pasokan tidak langsung habis dalam waktu singkat.
Langkah tersebut diperlukan supaya ketersediaan MinyaKita tetap terjaga hingga distribusi berikutnya tiba.
Pengawasan dilakukan secara berkala bersama Bulog, RNI, dan PPI, termasuk ketika proses distribusi berlangsung.
’’Dengan distribusi berkala dan pengelolaan stok oleh pedagang, ketersediaan MinyaKita di pasar diharapkan tetap terjaga,’’ pungkas Tri. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto