Jawa Pos Radar Madiun – Destinasi wisata Kota Madiun berpeluang bertambah.
Pemkot Madiun menjajaki kerja sama dengan Perhutani untuk mengembangkan wisata kehutanan berbasis edukasi lingkungan.
Sejumlah potensi mulai dipetakan. Mulai arboretum, urban forest, fasilitas penginapan, hingga sejumlah titik di kawasan KPH Lawu DS.
Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun mengatakan, aset dan potensi milik Perhutani dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata dengan berbagai konsep. Edukasi kehutanan menjadi salah satu fokus utama.
’’Potensi Perhutani sangat luas dan pemanfaatan wisatanya bisa bermacam-macam, utamanya edukasi kehutanan,’’ ujar Bagus, Kamis (13/8).
Potensi tersebut juga akan dikoneksikan dengan pengembangan kawasan baru yang tengah disiapkan Pemkot Madiun.
Kedua pihak berencana mematangkan kolaborasi melalui payung perjanjian kerja sama (PKS).
’’Semuanya bisa kami kerjasamakan. Kami akan mencoba komunikasi membuat payung PKS supaya potensi-potensi Perhutani bisa lebih dimaksimalkan,’’ katanya.
Konsep yang disiapkan tidak sebatas menjadikan kawasan kehutanan sebagai tempat rekreasi.
Pemkot ingin destinasi tersebut menjadi ruang belajar mengenai lingkungan dan pelestarian hutan.
Segmen pengunjung juga tidak dibatasi untuk pelajar. Wisatawan dewasa hingga rombongan wisata diharapkan dapat memanfaatkan kawasan tersebut.
’’Pengembangannya tidak hanya untuk anak-anak. Wisatawan dewasa nanti juga kami arahkan ke sini,’’ jelas Bagus.
Rencana tersebut sejalan dengan transformasi Perhutani Forestry Institute (PeFI).
Lembaga itu tengah berkembang dari pusat pelatihan internal menjadi strategic business unit knowledge center.
Transformasi tersebut membuka peluang pemanfaatan fasilitas PeFI untuk edukasi masyarakat sekaligus pengembangan bisnis.
Kepala Perhutani Forestry Institute M. Farid Januardi mengatakan, PeFI memiliki fasilitas yang cukup lengkap.
Kompleks tersebut berdiri di lahan hampir tujuh hektare dan memiliki 146 kamar.
Fasilitas lainnya meliputi aula, ruang pertemuan, ruang kelas, arboretum, museum kehutanan, Forest Cafe, hingga fasilitas olahraga.
’’Kami punya pengalaman panjang mengenai kehutanan, pengetahuan, dan sejarah. Itu bisa dimanfaatkan masyarakat terutama dalam bidang edukasi,’’ terangnya.
Farid memastikan pengembangan wisata tidak akan mengganggu fungsi utama Perhutani Forestry Institute sebagai pusat pembelajaran.
Edukasi lingkungan dan kehutanan justru akan menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.
Konsep itu sebenarnya sudah mulai berjalan. PeFI selama ini menerima kunjungan mulai pelajar tingkat TK hingga mahasiswa.
Pelajar dapat mempelajari pengelolaan hutan serta mengunjungi arboretum dan museum kehutanan.
Sementara mahasiswa dapat memperoleh pembelajaran di kelas hingga praktik langsung di kawasan hutan.
’’Wisata edukasi yang berkaitan dengan kehutanan dan lingkungan ini yang akan kami tawarkan,’’ katanya.
Kolaborasi juga berpeluang diperluas dengan menghubungkan potensi KPH Lawu, KPH Madiun, hingga KPH Saradan.
Namun, detail pengembangan masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut.
’’Perlu pembicaraan pendahuluan. Ada potensi-potensi lain yang bisa disinergikan untuk mendukung pengembangan Kota Madiun,’’ pungkas Farid. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto