Menelusuri Jejak Pecinan Kota Madiun yang Masih Hidup hingga Kini, Pasar Kawak dan Jajanan Subuh Jadi Saksi

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 11:33 WIB
Tampak depan dari pasar kawak madiun (Doc, Auliya/Tim Content Writer Radar Madiun)
Tampak depan dari pasar kawak madiun (Doc, Auliya/Tim Content Writer Radar Madiun)

Jawa Pos Radar Madiun - Denyut Kota Madiun terus berubah, tetapi jejak perdagangan masa lalu belum sepenuhnya hilang. Di kawasan yang dikenal sebagai Kampung Pecinan, warisan itu masih terlihat dari pasar tua, dapur rumahan yang bekerja sejak malam, hingga pedagang yang bertahan melayani pelanggan lintas generasi.

Salah satu saksi perjalanan tersebut adalah Pasar Kawak. Pasar lama ini tetap menjadi bagian dari kehidupan kawasan meskipun keramaiannya tak lagi seperti masa lalu.

Jejak lain tersimpan di kawasan Jalan Barito. Saat sebagian besar warga masih terlelap, sejumlah pelaku usaha jajanan pasar justru mulai menjalankan aktivitas jual beli sejak dini hari.

Debby Setiawati menjadi salah seorang pelaku usaha yang masih mempertahankan tradisi tersebut. Usaha keluarganya sudah berjalan sejak dia kecil dan kemudian diteruskan setelah ibunya meninggal dunia.

"Mulai saya kecil sudah jalan di sini," ujar Debby.

Resep yang digunakan tetap mempertahankan warisan generasi sebelumnya. Proses produksi bahkan dimulai sejak sore hingga malam sebelum jajanan dipasarkan menjelang subuh.

Baca Juga: Murid Menjemput Sejarah, Cara Dindik Jatim Tanamkan Nasionalisme kepada Pelajar di Momen HUT RI

Bahan dipersiapkan lebih dulu, kemudian adonan dibuat sekitar pukul 18.00–18.30 WIB. Penggorengan dimulai sekitar pukul 19.00 dan berakhir pukul 21.00–21.30 WIB sebelum produk dikemas.

Sekitar pukul 03.00 WIB, jajanan mulai dijual. Waktu tersebut dahulu menjadi salah satu ciri khas perdagangan di Jalan Barito karena kawasan itu sudah ramai ketika sebagian besar kota masih tidur.

Kini, suasananya mulai berubah. Debby mengakui penjualan tak lagi seramai sebelumnya dan kondisi ekonomi diduga turut memengaruhi daya beli masyarakat.

Meski demikian, produksi tetap berlangsung sekitar 700–800 buah per hari. Harga jajanan dimulai sekitar Rp1.200 hingga beberapa ribu rupiah tergantung jenisnya.

Debby juga tetap mempertahankan produk tanpa bahan pengawet. Resep warisan ibunya dijaga agar cita rasa tidak banyak berubah.

Pintu masuk pasar kawak madiun (Doc, Auliya/Tim Content Writer Radar Madiun)
Pintu masuk pasar kawak madiun (Doc, Auliya/Tim Content Writer Radar Madiun)

Pasar Kawak, Pasar Lama yang Masih Bertahan

Jika Jalan Barito menyimpan tradisi perdagangan berbasis rumah, Pasar Kawak menjadi jejak penting perdagangan dalam bentuk pasar. Cik Mey, salah seorang pedagang, mengatakan pasar itu dahulu dikenal sebagai pusat perdagangan besi tua.

"Pertama kali pasarnya itu pasar besi," kata Cik Mey.

Istilah "Kawak" sendiri kerap dikaitkan dengan sesuatu yang lama atau tua. Nama tersebut kemudian melekat pada pasar yang menjadi salah satu bagian lama dari jaringan perdagangan Kota Madiun.

Baca Juga: Libur HUT RI, 42.996 Penumpang Naik Kereta Api di Daop 7 Madiun

Seiring perkembangan kota, jenis dagangan di Pasar Kawak ikut berubah. Saat ini, masyarakat juga datang untuk mencari berbagai kebutuhan pangan.

Menurut Cik Mey, ada sejumlah produk yang menjadi ciri khas pasar. Daging babi dan sawi asin termasuk barang yang masih dicari karena tidak mudah ditemukan di pasar lain.

"Yang membuat beda itu jualan babi dan sawi asin," ujar Cik Mey.

Produk khas tersebut membuat sebagian pelanggan tetap datang secara khusus. Namun, jumlah pembeli secara umum diakui telah berkurang.

Salah satu tantangannya adalah perubahan pola belanja masyarakat. Banyak pedagang kebutuhan sehari-hari kini memilih berjualan dari rumah atau langsung di lingkungan tempat tinggal warga.

Kondisi lapak yang masih tampak bersish dan dengan jajanan khasnya di dalam pasar kawak madiun (Doc, Auliya/Tim Content Writer Radar Madiun)
Kondisi lapak yang masih tampak bersish dan dengan jajanan khasnya di dalam pasar kawak madiun (Doc, Auliya/Tim Content Writer Radar Madiun)

Dari Pasar Lama Menuju Sejarah Kampung Pecinan

Untuk memahami posisi Pasar Kawak, sejarah kawasan Pecinan perlu dilihat lebih luas. Septian Dwita Kharisma, guru IPS SMP Negeri 9 Madiun, menjelaskan keberadaan masyarakat Tionghoa di wilayah Madiun telah berlangsung sejak lama.

Jejak tersebut menurutnya dapat dilihat dari sejumlah temuan di berbagai situs. Namun, pengelompokan masyarakat Tionghoa ke kawasan tertentu semakin jelas pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

"Orang Tionghoa berkelompok, mulai dikelompokkan ketika era Belanda," jelas Septian.

Baca Juga: 352 Perwira Transportasi Dilantik di Politeknik Perkeretaapian Indonesia (PPI) Madiun, Disiapkan Jadi ASN hingga Operator

Kawasan Pecinan kemudian mencakup sejumlah ruas di pusat Kota Madiun. Septian menyebut wilayah tersebut membentang antara lain di sekitar Jalan Cokroaminoto, Jalan Sleko, Jalan Nias hingga kawasan Alun-Alun.

Aktivitas ekonomi ikut berkembang bersama terbentuknya kawasan tersebut. Perdagangan tidak hanya berlangsung di pasar, tetapi juga tumbuh dari rumah-rumah warga.

Jalan Barito, misalnya, pernah dikenal dengan aktivitas industri kecil rumahan. Produksi roti dan jajanan pasar menjadi salah satu kegiatan yang mewarnai kawasan tersebut.

Cerita itu memiliki kesinambungan dengan usaha yang masih bertahan sekarang. Walaupun skalanya berkurang, produksi makanan berbasis keluarga menunjukkan bahwa tradisi ekonomi rumahan belum sepenuhnya hilang.

Pasar Kawak dalam Perjalanan Kota Madiun

Septian juga menyebut Pasar Kawak sebagai bagian penting dalam sejarah perdagangan Kota Madiun. Sebelum hadirnya pusat perdagangan yang lebih besar, pasar tersebut memiliki posisi yang jauh lebih kuat.

"Dulu itu pasar Kawak itu besar," jelasnya.

Perkembangan kota kemudian memunculkan pusat perdagangan baru. Posisi Pasar Kawak pun bergeser dan semakin dikenal sebagai pasar lama.

Perubahan itu ikut menjelaskan mengapa kondisinya sekarang berbeda dibandingkan masa lalu. Pergeseran pusat perdagangan dan perubahan pola belanja masyarakat membuat arus pembeli tak lagi sama.

Meski demikian, pasar tersebut tetap memiliki nilai historis. Aktivitas pedagang yang masih berjalan menjadi penghubung antara masa lalu dan kehidupan ekonomi Madiun hari ini.

Rumah produksi jajanan pasar, Roti Wijaya (Doc, Herlinda/Tim Content Writer Radar Madiun)
Rumah produksi jajanan pasar, Roti Wijaya (Doc, Herlinda/Tim Content Writer Radar Madiun)

Pecinan dan Hubungan Masyarakat Jawa-Tionghoa

Kampung Pecinan tidak hanya menyimpan cerita melalui aktivitas perdagangan. Sejumlah bangunan lama juga menjadi bagian penting dari perjalanan komunitas Tionghoa di Kota Madiun.

Septian menyebut adanya bangunan yang dahulu berkaitan dengan pabrik rokok di sekitar Pasar Kawak. Ada pula bangunan sekolah lama dan sejumlah rumah yang masih mempertahankan bentuk arsitektur terdahulu

Salah satu rumah juga disebut pernah menjadi kediaman Kapitan Tionghoa terakhir. Namun, sebagian bangunan lama tersebut kini telah berpindah kepemilikan.

Baca Juga: Gempa Magnitudo 6,4 Guncang Simalungun, Getaran Terasa hingga Medan

Perubahan kepemilikan menjadi tantangan tersendiri dalam pelestarian. Keberlanjutan perawatan bangunan pada akhirnya bergantung pada keputusan pemilik masing-masing.

Karena itu, menjaga sejarah Pecinan tidak cukup hanya dengan merawat cerita. Peninggalan fisik yang masih bertahan juga memerlukan perhatian.

Sejarah Pecinan Madiun juga tidak berdiri sendiri sebagai cerita komunitas Tionghoa. Septian menilai hubungan masyarakat Jawa dan Tionghoa telah terbentuk dalam perjalanan panjang kawasan tersebut.

Interaksi sosial berlangsung dalam keseharian dan pada sejumlah masa sulit. Hubungan itu antara lain terlihat dari sikap saling membantu antarwarga.

Karena itu, sejarah Pecinan menurutnya sebaiknya dipahami sebagai bagian dari sejarah bersama masyarakat Madiun. Komunitas Jawa juga memiliki peran dalam perjalanan kawasan tersebut.

Pemahaman itu dinilai penting bagi generasi sekarang. Tidak semua masyarakat mengetahui secara mendalam bagaimana Pecinan tumbuh dan menjadi bagian dari sejarah lokal kota.

Baca Juga: Empat Jabatan Kepala Dinas Kota Madiun Dilelang, Pelamar Didominasi Internal

Menjaga Pecinan sebagai Identitas Lokal

Perubahan zaman memang membuat wajah Pecinan tak lagi sama. Pasar Kawak lebih sepi, sedangkan aktivitas jajanan pasar di Jalan Barito juga tidak sepadat masa lalu.

Namun, jejaknya belum hilang. Pedagang masih membuka lapak, usaha keluarga terus berjalan, dan produk khas tetap dicari pelanggan.

Bangunan lama serta cerita masyarakat juga masih menjadi bagian dari ingatan kolektif kawasan. Menurut Septian, semua unsur tersebut dapat diangkat kembali sebagai identitas lokal Madiun.

"Harapan saya Pecinan ini bisa diangkat di dalam masyarakat, dalam identitas kelokalan kita," ujarnya.

Upaya tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat dapat berperan melalui dokumentasi sejarah, kegiatan budaya, pengenalan bangunan lama, dan menjaga keberlanjutan perdagangan tradisional.

Pada akhirnya, Kampung Pecinan Madiun bukan hanya cerita tentang sebuah kawasan komunitas Tionghoa. Di dalamnya tersimpan sejarah perdagangan, perkembangan kota, hubungan sosial, serta tradisi keluarga yang terus bertahan.

Selama para pedagang masih membuka lapak, resep keluarga terus dibuat, dan cerita lama tetap diwariskan, Pecinan Madiun bukan hanya bagian dari masa lalu. Kawasan itu tetap hidup sebagai salah satu denyut identitas Kota Madiun hingga hari ini. (*/naz)

*Herlinda Nur Fauziya/Dwiki Dermawan/Aulia Ruliani Putri Pambareb, Magang Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Kopi Kakak sejarah pecinan Pasar Kawak kota madiun kampung pecinan