15 Tahun Pit Lempit Madiun, Berawal 10 Orang Kini Punya 200 Anggota

Erlita H • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:39 WIB
GUYUB: Anggota Pit Lempit Madiun menikmati agenda gowes bersama. Berawal dari sekitar 10 orang pada 2011, komunitas sepeda lipat tersebut kini memiliki sekitar 200 anggota. (Istimewa/Jawa Pos Radar Madiun)
GUYUB: Anggota Pit Lempit Madiun menikmati agenda gowes bersama. Berawal dari sekitar 10 orang pada 2011, komunitas sepeda lipat tersebut kini memiliki sekitar 200 anggota. (Istimewa/Jawa Pos Radar Madiun)

Jawa Pos Radar Madiun – Bagi Pit Lempit Madiun, mengayuh sepeda bukan sekadar mengejar jarak dan kebugaran.

Gowes menjadi perekat persaudaraan yang membuat komunitas sepeda lipat tersebut bertahan selama 15 tahun.

Pit Lempit lahir pada 22 Juli 2011. Embrionya bermula dari sekitar 10 pegiat sepeda lintas disiplin. Mulai downhill, road bike, MTB, hingga BMX.

Kesamaan minat kemudian mempertemukan mereka dalam satu wadah penggemar sepeda lipat.

’’Dulu para senior sering berkumpul dan ngobrol. Kemudian muncul gagasan membuat komunitas sepeda lipat di Madiun,’’ kata salah seorang pengurus Pit Lempit Madiun Agung Eli, Minggu (16/8).

Pilihan jatuh pada sepeda lipat karena kepraktisannya. Sepeda dapat dilipat dan dibawa menggunakan mobil, kereta api, maupun angkutan umum.

Padahal, menurut Agung, pada 2011 sepeda lipat belum sepopuler sekarang. Seiring waktu, komunitas tersebut terus berkembang.

Kini, sekitar 200 orang tergabung dalam grup komunikasi Pit Lempit Madiun. Dari jumlah tersebut, sekitar 60 anggota masih aktif mengikuti berbagai kegiatan komunitas.

Agung menyebut resep Pit Lempit bertahan hingga belasan tahun justru sederhana: warung.

Setelah mengayuh pedal bersama, para anggota biasanya tidak langsung pulang. Mereka melanjutkan kebersamaan dengan ngopi dan mengobrol.

’’Kalau ditanya resepnya supaya tetap konsisten, pondasinya itu warung. Setelah bersepeda kami biasanya ngopi dan ngobrol. Dari situ persaudaraan tetap terjaga,’’ ungkap pria 45 tahun itu.

Kultur kekeluargaan tersebut juga tercermin dari organisasi yang dibuat cair. Tak ada struktur berlapis ataupun iuran wajib.

Setiap agenda dibicarakan bersama. Sedangkan kebutuhan kegiatan dipenuhi secara sukarela maupun melalui dukungan sponsor.

Pit Lempit rutin menggelar gowes setiap Minggu pagi. Jarak tempuhnya rata-rata sekitar 40 kilometer.

Sesekali, mereka menguji ketahanan dengan rute lebih dari 100 kilometer. Ring Macan yang melintasi Madiun–Caruban–Ngawi–Madiun hingga Ring Wilis menjadi beberapa rute yang pernah dijajal.

Pit Lempit juga aktif mengikuti berbagai ajang sepeda lipat. Mulai Bromokram di Bromo, kegiatan di Mangunan, Jogjakarta, hingga Jambore Sepeda Lipat Nasional (Jamselinas).

Pintu Pit Lempit terbuka bagi siapa saja. Komunitas tidak membatasi usia maupun merek sepeda yang digunakan.

Syaratnya hanya memiliki ketertarikan terhadap sepeda lipat dan bersedia bergabung dalam semangat kebersamaan.

’’Intinya sepeda lipat. Apa pun bentuk, jenis, dan mereknya boleh. Semua bisa ikut,’’ ujar Agung.

Keluarga anggota pun kerap dilibatkan dalam berbagai kegiatan. Konsep itu dipertahankan agar Pit Lempit tak berubah menjadi komunitas yang sekadar mengejar kilometer.

Setelah 15 tahun mengayuh bersama, tujuan mereka tetap sederhana: menjaga kesehatan, menambah saudara, dan merawat keguyuban.

’’Harapannya tetap rukun, solid, dan bisa terus berkumpul. Tidak hanya bersepeda, tetapi juga tetap bisa ngopi bersama dan menjaga guyub rukun,’’ pungkas Agung. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
Pit Lempit Madiun komunitas sepeda lipat sepeda lipat madiun gowes madiun