Mengenal Madiun Last Friday Ride, Gowes Jumat Akhir Bulan yang Suarakan Hak Pesepeda

Erlita H • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:01 WIB
GOWES BERSAMA: Peserta Madiun Last Friday Ride menyusuri jalanan Kota Madiun. MLFR rutin digelar setiap Jumat terakhir tiap bulan sekaligus menyuarakan hak pesepeda di jalan. (Bagas Bimantara/Jawa Pos Radar Madiun)
GOWES BERSAMA: Peserta Madiun Last Friday Ride menyusuri jalanan Kota Madiun. MLFR rutin digelar setiap Jumat terakhir tiap bulan sekaligus menyuarakan hak pesepeda di jalan. (Bagas Bimantara/Jawa Pos Radar Madiun)

Jawa Pos Radar Madiun – Bukan komunitas, bukan pula arena adu cepat.

Madiun Last Friday Ride (MLFR) menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk mengayuh sepeda bersama sekaligus menyuarakan hak pesepeda sebagai pengguna jalan.

Salah seorang penggerak MLFR Yogy Wahyu Pratama mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari gerakan global critical mass.

Gerakan yang bermula di San Francisco pada 1992 itu kemudian menyebar ke berbagai negara dengan tradisi bersepeda setiap Jumat terakhir tiap bulan.

’’Kalau setiap hari jalan ramai motor, kami ingin menunjukkan bahwa sebulan sekali jalan juga bisa ramai sepeda. Pesepeda juga membutuhkan fasilitas yang aman,’’ ujarnya, Minggu (16/8).

MLFR mulai hadir di Kota Madiun pada Januari 2014. Ide tersebut dibawa Yogy, yang akrab disapa Memed, setelah mengikuti kegiatan serupa di Jogjakarta pada Desember 2013.

Antusiasme masyarakat sempat mencapai puncaknya pada periode 2014–2016. Kala itu, peserta diklaim mencapai ribuan orang.

Membludaknya peserta bahkan membuat titik kumpul harus berpindah. Dari semula di Jalan Setia Budi kemudian bergeser ke kawasan Jalan Pahlawan dan Jalan Sumatera.

Perjalanan MLFR tak selalu mulus. Jumlah peserta perlahan menyusut akibat berbagai faktor, mulai cuaca hingga pandemi Covid-19.

Baca Juga: 15 Tahun Pit Lempit Madiun, Berawal 10 Orang Kini Punya 200 Anggota

Pada 2023–2024, peserta bahkan hanya berkisar 10–20 orang dalam setiap gelaran.

Namun, agenda bulanan tersebut tidak berhenti.

’’Kami tetap konsisten. Setiap Jumat akhir bulan selalu ada yang bersepeda,’’ kata pria 31 tahun tersebut.

Geliat MLFR kembali terlihat pada 2026. Setiap bulan, sekitar 100 hingga 300 pesepeda ikut menyusuri jalanan Kota Madiun.

Pesertanya beragam. Mulai pelajar, pekerja, pesepeda individu, hingga komunitas sepeda tua. Tak ada tiket maupun kewajiban menjadi anggota.

Jenis dan harga sepeda pun bukan ukuran untuk dapat bergabung.

’’Semua sepeda bisa ikut. Tidak memandang jenis atau harga sepeda,’’ tegas Memed.

Rute yang ditempuh biasanya sekitar 10 kilometer mengelilingi kawasan perkotaan.

Titik akhir perjalanan kerap dipilih di sentra kuliner maupun tempat usaha sebagai bentuk dukungan terhadap UMKM lokal.

Di balik keseruan gowes bersama, MLFR tetap membawa misi awal: mendorong terciptanya ruang jalan yang lebih ramah dan aman bagi pesepeda.

Menurut Memed, keterbatasan fasilitas parkir hingga persoalan keamanan masih menjadi hambatan masyarakat menjadikan sepeda sebagai moda transportasi sehari-hari.

’’Banyak yang sebenarnya ingin bersepeda, tetapi fasilitas pendukung dan keamanannya masih kurang,’’ ungkapnya.

Eksistensi MLFR kini juga mulai menarik pesepeda dari luar Madiun. Peserta asal Nganjuk hingga Malang disebut pernah datang khusus untuk mengayuh bersama.

Memed berharap MLFR dapat berkembang menjadi salah satu daya tarik Kota Madiun.

Bukan hanya sebagai kegiatan olahraga, tetapi juga agenda yang menggerakkan kunjungan dan aktivitas ekonomi.

’’Orang datang ke Madiun bukan hanya untuk kuliner, tetapi juga karena ada kegiatan bersepeda seperti MLFR,’’ pungkasnya. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
Madiun Last Friday Ride MLFR gowes kota madiun pesepeda madiun