Jawa Pos Radar Madiun – Sampah dapur tak lagi harus berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Pemkot Madiun menyiapkan empat titik budidaya maggot atau larva black soldier fly (BSF) untuk mengolah sampah organik sekaligus mengurangi beban TPA Winongo.
Empat lokasi tersebut tersebar di Kelurahan Demangan, Kartoharjo, Madiun Lor, dan Manguharjo.
Khusus Manguharjo, pemkot merancang budidaya maggot dalam skala lebih besar.
Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun mengatakan, pemkot bakal melakukan survei di masing-masing lokasi.
Pemetaan diperlukan untuk menentukan kebutuhan infrastruktur hingga pihak yang nantinya mengelola budidaya.
’’Yang kecil nanti untuk 50 kepala keluarga. Yang besar tergantung kebutuhan tempat yang nanti kami sediakan,’’ ujarnya, Senin (16/8).
Konsep pengolahan dimulai dari rumah tangga. Warga diminta memilah sampah sejak dari sumber agar material organik tidak tercampur dengan jenis sampah lainnya.
Sisa makanan dan sampah organik kemudian dikumpulkan untuk dimanfaatkan sebagai pakan maggot.
Larva hasil budidaya selanjutnya dapat digunakan sebagai alternatif pakan ternak.
Skema tersebut diharapkan menciptakan siklus pemanfaatan sampah sekaligus memangkas volume sampah organik yang selama ini dikirim ke TPA Winongo.
Pemkot menyadari budidaya maggot membutuhkan keterlibatan warga. Sebab, keberhasilan pengolahan sampah organik bergantung pada pemilahan sejak dari rumah.
Karena itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Madiun bersama Pendekar Hijau dan ketua RT terus menggencarkan edukasi mengenai pemilahan dan pengolahan sampah.
’’DLH bersama teman-teman Pendekar Hijau dan masing-masing RT terus sosialisasi berbagai strategi agar sampah organik dapat dimanfaatkan untuk pengembangan maggot,’’ pungkas Bagus. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto