Jawa Pos Radar Madiun – Ancaman kebakaran di Kota Madiun meningkat selama musim kemarau.
Satpol PP dan Damkar mencatat 35 kejadian sepanjang Januari hingga 3 Agustus 2026, dengan pembakaran sampah dan lahan menjadi pemicu terbanyak.
Dari 35 kejadian tersebut, sebanyak 19 kasus dipicu pembakaran sampah atau lahan.
Disusul korsleting listrik sebanyak 10 kasus, kebocoran gas atau tabung elpiji lima kasus, serta satu kejadian akibat faktor lainnya.
Lonjakan cukup signifikan terjadi pada Juli. Dalam satu bulan saja, tercatat 18 kejadian kebakaran atau lebih dari separuh jumlah kasus sepanjang Januari hingga awal Agustus.
Kepala Satpol PP dan Damkar Kota Madiun Agus Purwo Widagdo mengatakan, kebakaran belakangan banyak terjadi di lahan kosong maupun kebun.
’’Untuk tren sekarang banyak kebakaran lahan dan kebun,’’ ujarnya, Selasa (18/8).
Menurut Agus, kondisi lahan dan vegetasi yang mengering saat kemarau membuat api lebih mudah merambat.
Risiko semakin tinggi ketika warga melakukan pembakaran tanpa pengawasan.
Karena itu, masyarakat diminta tidak sembarangan membakar sampah maupun sisa pertanian di lahan terbuka. Terlebih meninggalkan lokasi ketika api belum benar-benar padam.
’’Sekarang banyak kebakaran karena ada orang membakar di lahan kosong kemudian ditinggalkan. Termasuk membakar sekam, kalau tidak diawasi bisa menimbulkan masalah,’’ tegas mantan kadisbudparpora tersebut.
Tak hanya kebakaran lahan, potensi kebakaran di kawasan permukiman juga menjadi perhatian.
Korsleting listrik tercatat menjadi penyebab terbanyak kedua dengan 10 kejadian.
Penggunaan kompor dan tabung elpiji juga perlu diwaspadai. Sepanjang periode yang sama, tercatat lima kasus kebakaran akibat kebocoran gas atau tabung elpiji.
Satpol PP dan Damkar Kota Madiun pun terus menggencarkan langkah pencegahan dengan memberikan edukasi kepada masyarakat.
’’Kami rutin memberikan edukasi kepada masyarakat, mulai lingkungan permukiman hingga pertokoan dan perhotelan,’’ katanya.
Agus menegaskan, kewaspadaan masyarakat menjadi kunci menekan risiko kebakaran selama musim kemarau.
’’Jangan membakar sampah di kebun,’’ pesannya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto