Jawa Pos Radar Madiun – Panjat tebing Kota Madiun kembali menggeliat.
Setelah sekitar tujuh tahun vakum kompetisi, kejuaraan kota (kejurkot) kembali digelar di wall panjat tebing kawasan Stadion Wilis, Sabtu–Minggu (22–23/8).
Momentum tersebut sekaligus menjadi titik awal regenerasi atlet.
Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kota Madiun bakal memanfaatkan Kejurkot panjat tebing Madiun untuk memetakan talenta potensial yang dapat diproyeksikan menuju kejuaraan tingkat provinsi hingga Porprov 2027.
Ketua FPTI Kota Madiun Armaya mengatakan, kejurkot menjadi tolok ukur pembinaan setelah kompetisi tingkat kota cukup lama vakum.
Antusiasme peserta sejauh ini cukup tinggi. Sekitar 80 atlet telah terdaftar dan jumlahnya masih berpeluang bertambah.
’’Ternyata animonya banyak. Sampai saat ini 80 peserta dan masih ada tambahan. Mudah-mudahan target 100 peserta bisa tercapai,’’ ujarnya, kemarin (21/8).
Armaya menegaskan, kejurkot bukan semata ajang berburu gelar juara.
FPTI Kota Madiun sekaligus memantau kemampuan setiap peserta untuk mencari bibit potensial.
Atlet yang dinilai memiliki kemampuan menjanjikan bakal dipersiapkan menghadapi kejuaraan tingkat provinsi. Termasuk membuka peluang untuk dibina sebagai proyeksi Porprov 2027.
’’Kalau memang ada atlet yang kelihatannya bisa dibawa ke sana, nanti kami nilai. Harapan saya, atlet untuk kejurprov harus ada,’’ tegas Armaya yang juga menjabat Ketua DPRD Kota Madiun.
Tak berhenti pada kejurkot, FPTI mulai menyiapkan kompetisi dengan level lebih tinggi.
Armaya berencana berkoordinasi dengan Disbudparpora Kota Madiun untuk menggagas wali kota cup panjat tebing tahun depan.
’’Panitia terus saya support agar tahun depan penyelenggaraan wali kota cup bisa terealisasi,’’ katanya.
Ketua Harian FPTI Kota Madiun Fajar Kartiko Nugroho mengatakan, kejurkot mempertandingkan dua kategori utama. Yakni, lead dan speed dengan total 14 nomor pertandingan.
Kategori lead terdiri atas U-11, U-13, dan U-19 putra-putri. Sedangkan speed mempertandingkan U-11, U-13, U-19, serta U-60 putra-putri.
Kategori usia di atas 50 tahun menjadi ajang eksibisi bagi para mantan atlet.
Menurut Fajar, kompetisi panjat tebing terakhir di Kota Madiun digelar sekitar 2019.
Kendati kejuaraan vakum, aktivitas latihan para atlet tetap berjalan rutin setiap pekan.
’’Kurang lebih tujuh tahun vakum untuk penyelenggaraan kompetisi. Tetapi latihan setiap minggu tetap rutin,’’ jelasnya.
Hasil kejurkot selanjutnya dievaluasi untuk menentukan atlet yang layak masuk pusat pelatihan.
Pembinaan tersebut diarahkan untuk mempersiapkan mereka menghadapi Porprov maupun kejuaraan daerah lainnya.
’’Atlet-atlet potensial nanti kami masukkan ke pusat pelatihan untuk proyeksi Porprov maupun kejuaraan lainnya,’’ pungkas Fajar. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto