Jawa Pos Radar Madiun – Empat persen balita yang belum tersentuh kunjungan posyandu tak akan dibiarkan luput dari pemantauan.
Pemkot Madiun bakal menyisir mereka hingga ke rumah demi menekan stunting Kota Madiun yang saat ini masih berada di kisaran 5 persen.
Sekretaris Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB Kota Madiun) Wahyu Hetty Darmawati mengatakan, cakupan kunjungan posyandu hingga Agustus 2026 sudah mencapai sekitar 96 persen.
Target berikutnya tak tanggung-tanggung. Seluruh balita di Kota Madiun diupayakan terpantau atau cakupannya mencapai 100 persen.
’’Sekarang stunting di angka 5 persen. Ini masih bisa turun lagi. Kunjungan posyandu sekitar 96 persen, harapannya bisa 100 persen sehingga angka stunting juga turun,’’ ujarnya, Minggu (22/8).
Mengejar empat persen sisanya bukan perkara mudah. Sebagian balita sulit datang ke posyandu pada hari kerja.
Karena itu, dinkes menyiapkan strategi jemput bola melalui kunjungan langsung ke rumah.
Petugas bersama kader posyandu bakal mendatangi balita yang belum terpantau.
Bahkan, penyisiran direncanakan dilakukan pada akhir pekan demi memperbesar peluang bertemu anak dan keluarganya.
’’Kalau Sabtu dan Minggu harapannya balita ada di rumah. Kami bekerja sama dengan tokoh masyarakat maupun kader posyandu,’’ jelas Wahyu.
Upaya menekan stunting juga tidak baru dilakukan ketika anak lahir. Intervensi menyasar ibu hamil melalui pemberian makanan tambahan (PMT), edukasi gizi, serta pemeriksaan kehamilan.
Apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, dinkes berkoordinasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi maupun dokter spesialis anak.
Menariknya, persoalan stunting di perkotaan disebut tak melulu berkaitan dengan kemampuan ekonomi keluarga.
Wahyu mengatakan, pola asuh dan gaya hidup justru menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius.
Kebiasaan mengonsumsi junk food menjadi salah satu yang disorot.
Begitu pula pemantauan asupan gizi anak yang dinilai bisa kurang optimal ketika keseharian mereka lebih banyak bersama pengasuh atau kakek-nenek.
’’Penyebab stunting di kota lebih ke arah lifestyle. Bukan karena kemiskinan sehingga ibu tidak bisa memberikan makanan bergizi,’’ ungkapnya.
Itu sebabnya, pencegahan dilakukan sejak remaja putri, dilanjutkan selama masa kehamilan hingga anak memasuki usia balita.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil dan balita serta PMT posyandu turut menjadi instrumen pendukung untuk memperbaiki asupan gizi.
Wahyu menyebut angka stunting tahun ini sudah lebih rendah dibandingkan 2025. Hanya, penurunannya belum terlalu signifikan.
Cakupan kunjungan posyandu yang dikejar hingga 100 persen diharapkan memperkuat deteksi dan intervensi terhadap tumbuh kembang anak.
’’Menurun, tetapi tidak banyak. Namun, tetap ada penurunan,’’ pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto