Jawa Pos Radar Madiun – Jalan Pahlawan bakal berubah menjadi lautan penari.
Madiun Menari yang awalnya diproyeksikan diikuti sekitar 3.500 orang kini mendekati 5 ribu peserta, mulai anak-anak hingga dewasa.
Memasuki H-6, persiapan pertunjukan tari massal di Pahlawan Street Center (PSC) Kota Madiun itu semakin intensif.
Ribuan peserta mulai berlatih langsung di lokasi untuk menyesuaikan gerakan sekaligus posisi saat pertunjukan.
Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun ikut turun dalam latihan, kemarin (23/8). Bahkan, Bagus turut menjajal gerakan Beksan Parisuko bersama para peserta.
Menurut dia, persiapan Madiun Menari sudah jauh lebih matang. Pekerjaan yang tersisa salah satunya menyempurnakan pembagian zona bagi ribuan penari.
’’Para penari terus berlatih langsung di lokasi untuk menyesuaikan tempat. Alhamdulillah, persiapannya jauh lebih matang. Tinggal pembagian wilayah atau zona,’’ ujarnya.
Mengerahkan hampir 5 ribu orang dalam satu pertunjukan tentu bukan perkara sederhana.
Namun, Bagus menegaskan Madiun Menari tidak digelar semata-mata untuk mengejar rekor.
Pemkot ingin kegiatan tersebut menjadi ruang apresiasi bagi pelaku seni sekaligus memperkuat geliat budaya yang tumbuh dari masyarakat.
’’Kalau MURI nanti saja. Yang terpenting geliat budaya ini sudah diinisiasi masyarakat sendiri,’’ tegasnya.
Sekretaris Disbudparpora Kota Madiun Mas Kahono Pekik Hari Prasetiyo mengatakan, mayoritas teknis pertunjukan sudah dilatihkan. Mulai alur keluar-masuk peserta hingga urutan gerakan.
Tinggal satu bagian koreografi yang perlu dimatangkan. Yakni, gerakan Mexican Wave dan freeze yang dijadwalkan dilatih saat gladi bersih 28 Agustus.
’’Tinggal satu gerakan final yang akan dilatihkan saat gladi bersih, yaitu Mexican Wave dan freeze,’’ katanya.
Lonjakan jumlah peserta terjadi setelah sejumlah komunitas ikut bergabung.
Penempatan hampir 5 ribu penari pun bakal diatur berdasarkan kelompok, termasuk kategori usia.
Sejumlah kantong peserta disiapkan di ruas-ruas sekitar Jalan Pahlawan.
Sedangkan area utama pertunjukan membentang mulai perempatan Gereja Santo Cornelius hingga kantor Telkom.
Para peserta nantinya tidak hanya berdiri dan menari di satu titik. Mereka bergerak dari kantong persiapan, bergabung dalam pertunjukan massal, kemudian kembali bergerak mengikuti rangkaian koreografi.
Skema tersebut membuat pengaturan massa menjadi salah satu bagian krusial menjelang hari pelaksanaan.
Salah satu daya tarik utama Madiun Menari adalah Beksan Parisuko. Tari asli Madiun tersebut ingin semakin dikenalkan kepada masyarakat lintas generasi.
Pemkot berharap ribuan orang yang terlibat tak sekadar menghafalkan koreografi.
Mereka juga diharapkan tumbuh rasa memiliki terhadap budaya lokal Kota Madiun.
’’Harapannya, Beksan Parisuko bisa dipahami seluruh segmen masyarakat Kota Madiun sehingga tidak asing dengan gerakannya,’’ jelas Pekik.
Madiun Menari juga menjadi bagian rangkaian car free night Kota Madiun.
Pemkot menyediakan ruang bagi UMKM dan seniman lokal untuk ikut meramaikan kawasan.
Sehari berikutnya, kawasan tersebut kembali digunakan untuk car free day (CFD) dengan fokus kegiatan olahraga.
’’Kegiatan ini diharapkan menimbulkan kekompakan dan rasa memiliki budaya yang sama. Kesetiakawanan sosial itu bisa menjadi modal pembangunan ke depan,’’ pungkas Pekik. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto