Lima Bayi dan Dua Ibu Meninggal di Kota Madiun, Deteksi Risiko Diperkuat

Erlita H • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 09:35 WIB
DETEKSI DINI: Pemeriksaan ibu dan anak diperkuat untuk menemukan kondisi berisiko sejak masa kehamilan. Bagas Bimantara/Jawa Pos Radar Madiun
DETEKSI DINI: Pemeriksaan ibu dan anak diperkuat untuk menemukan kondisi berisiko sejak masa kehamilan. Bagas Bimantara/Jawa Pos Radar Madiun

Jawa Pos Radar Madiun – Kematian ibu dan bayi di Kota Madiun masih menjadi pekerjaan rumah sektor kesehatan.

Hingga Agustus 2026, Dinkes PPKB Kota Madiun mencatat lima kematian bayi dan dua kematian ibu.

Dari lima kasus kematian bayi tersebut, dua terjadi ketika bayi masih berada dalam kandungan. Sedangkan tiga lainnya meninggal setelah dilahirkan.

’’Kalau saya tidak salah ada lima. Dua meninggal di dalam kandungan, tiga meninggal setelah lahir,’’ ujar Sekretaris Dinkes PPKB Kota Madiun Wahyu Hetty Darmawati, Minggu (23/8).

Catatan tersebut membuat upaya deteksi dini kehamilan berisiko semakin diperkuat.

Sebab, angka kematian neonatal atau bayi berusia kurang dari 28 hari belum dapat ditekan hingga nol.

Wahyu mengatakan, upaya menekan kematian bayi di Kota Madiun tidak bisa hanya dilakukan setelah persalinan.

Kondisi kesehatan ibu dan janin harus dipantau sejak masa kehamilan.

’’Kalau bicara kematian, kami juga harus bicara sejak ibu hamil,’’ katanya.

Pemantauan dilakukan melalui Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP).

Selain itu, ibu hamil mendapatkan akses konsultasi dokter spesialis dan mengikuti kelas ibu hamil di setiap puskesmas.

Intervensi tersebut diarahkan untuk menemukan lebih awal kondisi yang berpotensi meningkatkan risiko terhadap ibu maupun janin.

Dengan begitu, penanganan maupun rujukan dapat dilakukan lebih cepat.

Sementara itu, dua kasus kematian ibu di Kota Madiun sepanjang 2026 berkaitan dengan kelainan jantung dan pembuluh darah.

Menurut Wahyu, pasien telah mendapatkan penanganan medis.

Bahkan, rujukan juga dilakukan hingga rumah sakit di Solo, namun nyawanya tidak dapat diselamatkan.

Kondisi tersebut menjadi evaluasi bagi Dinkes PPKB untuk semakin memperkuat pengawasan terhadap ibu hamil yang memiliki faktor risiko.

Pengawasan tidak hanya mengandalkan tenaga medis di fasilitas kesehatan.

Sekitar 3 ribu kader kesehatan Kota Madiun bakal dilibatkan untuk membantu menemukan kondisi berisiko di lingkungan masyarakat.

Keberadaan kader dinilai penting karena bersentuhan langsung dengan keluarga.

Terutama untuk mengawal ibu hamil maupun tumbuh kembang bayi di wilayah masing-masing.

’’Mereka ujung tombak yang benar-benar 24 jam mendampingi masyarakat,’’ pungkas Wahyu. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
kematian ibu dan bayi di Kota Madiun kematian bayi di Kota Madiun kematian ibu di Kota Madiun kader kesehatan Kota Madiun