Jawa Pos Radar Madiun – Urusan sampah di Kota Madiun bakal dimulai dari rumah.
Pemkot membidik sedikitnya 60 persen RT sudah menjalankan pilah sampah pada 2027 sebagai bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Gerakan tersebut mulai tumbuh dari lingkungan warga. Salah satunya Bank Sampah Gemes Manisrejo yang digagas masyarakat RT 17/RW 6, Kelurahan Manisrejo.
Plt Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun mengatakan, keterlibatan warga menjadi kunci untuk mengurangi volume sampah sejak dari sumbernya.
’’Pemkot mengapresiasi karena semuanya digagas sendiri oleh lingkungan RT. Artinya, kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sudah sangat tinggi,’’ ujarnya, kemarin (24/8).
Menurut Bagus, Bank Sampah Gemes Manisrejo bakal mendapat pendampingan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Madiun. Mulai evaluasi program hingga pengembangan pengelolaannya.
Modal penggeraknya sebenarnya sudah tersedia. Setiap RT memiliki kader hijau yang dapat dilibatkan untuk mendorong kebiasaan memilah dan mengelola sampah di tingkat lingkungan.
Bagus berharap inisiatif serupa bermunculan di kelurahan lain. Sebab, persoalan sampah dinilai tidak mungkin hanya dibebankan kepada pemerintah.
’’Harapannya ini bisa dicontoh RT-RT lain di Kota Madiun. Yang utama adalah kepedulian seluruh masyarakat melalui gerakan pilah sampah,’’ tegas mantan anggota DPRD Kota Madiun itu.
Perluasan bank sampah Kota Madiun bakal dilakukan secara bertahap. Pada 2027, pemkot membidik sedikitnya 60 persen RT sudah mulai melakukan pemilahan sampah.
Semakin banyak sampah yang dipilah sejak rumah tangga, semakin kecil pula residu yang harus ditangani pada tahap berikutnya.
Jumlah bank sampah juga didorong terus bertambah untuk mendukung target zero waste 2027.
’’Step by step. Harapannya 2027 setidaknya 60 persen RT sudah mulai bergerak pilah sampah. Semakin banyak bank sampah tentu semakin bagus,’’ katanya.
Di sisi lain, pemkot bakal kembali menyosialisasikan pemanfaatan anggaran Rp 10 juta per RT.
Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat memahami penggunaan dana dan dapat mengoptimalkannya untuk mendukung program di lingkungan masing-masing.
’’Uang Rp 10 juta per RT nanti akan disosialisasikan kembali. Meski sebelumnya sudah, saya minta kembali disosialisasikan,’’ pungkas Bagus. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto