Sedekade Vakum, Grebeg Maulud Kembali Hidup di Kota Madiun

Erlita H • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:24 WIB
LESTARI: Kirab Gunungan Jaler dan Estri mewarnai Grebeg Maulud Kota Madiun yang kembali digelar setelah vakum sekitar 10 tahun, Selasa (25/8). FOTO: Bagas Bimantara/Jawa Pos Radar Madiun
LESTARI: Kirab Gunungan Jaler dan Estri mewarnai Grebeg Maulud Kota Madiun yang kembali digelar setelah vakum sekitar 10 tahun, Selasa (25/8). FOTO: Bagas Bimantara/Jawa Pos Radar Madiun

Jawa Pos Radar Madiun – Setelah sekitar 10 tahun terhenti, Grebeg Maulud Kota Madiun akhirnya kembali hidup.

Dua gunungan dikirab melintasi jantung kota, diiringi pengumandangan Gamelan Sekaten, Selasa (25/8).

Tradisi yang lama vakum itu dihidupkan kembali Pemkot Madiun melalui kirab Gunungan Jaler dan Estri.

Tak berhenti sebagai perayaan budaya, Grebeg Maulud diproyeksikan berkembang menjadi ikon budaya Kota Madiun sekaligus daya tarik wisata.

Kirab dimulai dari Masjid Kuno Taman. Rombongan bergerak melewati Jalan dr Soetomo, Jalan Jawa, dan Jalan Pahlawan sebelum berakhir di Alun-Alun Kota Madiun.

Kemeriahan memuncak di titik akhir perjalanan. Masyarakat berebut isi kedua gunungan yang sebelumnya diarak mengelilingi sejumlah ruas utama kota.

Plt Wali Kota Madiun F Bagus Panuntun mengatakan, Grebeg Maulud membawa pesan yang lebih dalam daripada sekadar tontonan.

Tradisi tersebut diharapkan menjadi tuntunan untuk meningkatkan keteladanan terhadap Rasulullah SAW sekaligus menjadi ruang pelestarian budaya daerah.

’’Pemerintah kota berharap Grebeg Maulud tahun ini menjadi momentum untuk meningkatkan keteladanan kita terhadap Rasulullah SAW. Kegiatan ini juga dapat menjadi tuntunan dan tontonan yang menarik bagi seluruh elemen masyarakat,’’ ujarnya.

Bagus berharap Grebeg Maulud Kota Madiun dapat terus berkembang setelah kembali digelar tahun ini.

Plt Wali Kota Madiun F Bagus Panuntun menyerahkan 27 buceng dari lurah ke tokoh masyarakat. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIN
Plt Wali Kota Madiun F Bagus Panuntun menyerahkan 27 buceng dari lurah ke tokoh masyarakat. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN

Terlebih, tradisi tersebut memiliki potensi menjadi agenda budaya yang menarik masyarakat maupun wisatawan.

’’Budaya tradisi harus terus berkembang dan lestari agar generasi muda bangkit dan mencintai budaya sendiri,’’ katanya.

Menurut Bagus, kembalinya Grebeg Maulud tak lepas dari dorongan tokoh agama dan masyarakat.

Aspirasi tersebut kemudian direspons pemkot dengan menghidupkan kembali tradisi yang sekitar satu dekade tidak digelar.

Penyelenggaraan tahun ini bakal menjadi pijakan untuk pelaksanaan berikutnya.

Pemkot akan melakukan evaluasi agar Grebeg Maulud dapat dikemas semakin menarik tanpa meninggalkan nilai tradisi dan religius di dalamnya.

Targetnya, Grebeg Maulud berkembang menjadi ikon budaya Kota Madiun yang dikenal lebih luas.

Gunungan Jaler dan Estri menjadi bagian utama dalam prosesi. Masing-masing membawa filosofi yang berbeda, tetapi saling melengkapi.

Gunungan Jaler dihias dengan hasil bumi seperti padi, cabai, kacang panjang, dan sayuran.

Susunan hasil pertanian tersebut menjadi simbol kesuburan, kemakmuran, sekaligus sumber penghidupan.

Sementara itu, Gunungan Estri menggambarkan kebutuhan jasmani dan rohani. Keduanya menjadi simbol keseimbangan kehidupan.

Bentuk gunungan yang menjulang juga memiliki makna tersendiri.

’’Wujudnya menjulang, mengingatkan kita pada tingginya cita-cita. Kokoh dan kuat, tidak mudah roboh, melambangkan kekuatan yang gagah dan perkasa,’’ terang Bagus. (err/her/adv)

Editor : Hengky Ristanto
Grebeg Maulud Kota Madiun Gunungan Jaler dan Estri ikon budaya Kota Madiun Gamelan Sekaten