5.000 Penari Teguhkan Madiun Kota Budaya, Gerakan Warga Bikin Wawali Pekalongan Kepincut

Hengky Ristanto • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 20:41 WIB
LAUTAN PENARI: Ribuan warga mengikuti Madiun Menari di kawasan Pahlawan Street Center. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN
LAUTAN PENARI: Ribuan warga mengikuti Madiun Menari di kawasan Pahlawan Street Center. BAGAS BIMANTARA/RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Pahlawan Street Center (PSC) berubah menjadi lautan manusia.

Lebih dari 5.000 warga bergerak bersama dalam Madiun Menari, meneguhkan langkah Kota Pendekar menuju Madiun kota budaya.

Bukan sekadar pertunjukan tari kolosal, keterlibatan ribuan warga menjadi gambaran kuatnya partisipasi masyarakat dalam membangun identitas budaya kota. Terlebih, gerakan tersebut lahir dari inisiatif warga.

Plt Wali Kota Madiun F Bagus Panuntun menegaskan, Madiun Menari bukan agenda yang digagas pemerintah kota.

Pemkot mengambil peran sebagai fasilitator atas inisiatif masyarakat tersebut.

’’Ini bukan kegiatan Pemkot, ini kegiatan masyarakat. Semua inisiasi masyarakat. Hari ini 5.000 lebih masyarakat Kota Madiun bergerak untuk membangun kota ini menjadi salah satu kota budaya,’’ ujarnya, Sabtu (29/8) malam.

Menurut Bagus, tingginya animo dalam Madiun Menari menunjukkan keinginan masyarakat untuk terlibat langsung dalam pembangunan kota.

Karena itu, pemkot bakal memperluas fasilitasi terhadap berbagai kegiatan kebudayaan, termasuk seni tari.

’’Saya senang. Berarti kegiatan yang diinisiasi masyarakat ini membuat semuanya ingin ikut terlibat. Harapan besar saya, inisiasi-inisiasi kegiatan itu berasal dari masyarakat,’’ katanya.

Bagus juga membuka peluang pertunjukan kolosal serupa kembali digelar.

Apalagi, pemkot telah menyiapkan sejumlah calendar of event untuk tahun depan. Namun, konsep kegiatan tetap akan mempertimbangkan aspirasi masyarakat.

Pergerakan ribuan orang di pusat kota juga memberikan dampak ekonomi. Kerumunan peserta dan pengunjung menjadi pasar potensial bagi pedagang serta UMKM Kota Madiun di sekitar lokasi.

’’Besar sekali. Jadi, yang jualan di sana insyaallah bakule payu, dagangane payu,’’ tuturnya.

Meski jumlah pesertanya menembus 5.000 orang, Bagus mengaku tidak mengejar pencatatan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Baginya, tumbuhnya rasa memiliki serta gerakan masyarakat mencintai kotanya jauh lebih penting.

’’Kalau penghargaan, gampang,’’ tegasnya.

Gaung pertunjukan 5.000 penari di Kota Madiun rupanya menarik perhatian dari luar daerah.

Wakil Wali Kota Pekalongan Balgis Diab sengaja datang ke Kota Madiun untuk menyaksikan langsung pertunjukan kolosal tersebut.

Balgis mengaku baru kali pertama melihat lebih dari 5.000 penari bergerak bersama dalam satu pertunjukan.

’’Walaupun bukan warga Madiun, saya sangat bangga dengan pertunjukan yang spektakuler ini,’’ ujarnya.

Antusiasme masyarakat juga membuat Balgis terkesan.

Warga bukan sekadar datang menjadi penonton, tetapi ikut mengambil bagian dalam pertunjukan.

Suasana PSC malam itu bahkan diibaratkannya seperti bedhol desa.

’’Masyarakatnya luar biasa. Hadir semua. Ini seperti bedhol desa. Tumpah ruah hadir untuk menari di sini. Saya melihat tidak ada satu penonton, semua ikut menari, kecuali media,’’ kelakarnya.

Balgis turut memuji wajah Kota Madiun pada malam hari. Deretan ikon di pusat kota dinilainya memberikan pengalaman tersendiri bagi pengunjung.

’’Wajah Kota Madiun tentu selalu cantik, apalagi di malam hari. Saya suka dengan Kota Madiun,’’ pungkasnya. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
madiun menari madiun kota budaya 5.000 penari di Kota Madiun Wakil Wali Kota Pekalongan umkm kota madiun