Jawa Pos Radar Madiun – Langkah Anggraini Fathin Amalina menuju podium Alun-Alun Kota Madiun, 17 Agustus lalu, terasa berbeda. Di hadapan ribuan pasang mata, siswi SMAN 1 Madiun itu mengemban tugas penting sebagai pembawa baki Paskibraka Kota Madiun.
Gugup sempat menyergap remaja 16 tahun tersebut. Terlebih, Anggraini harus menerima langsung Bendera Merah Putih dari Plt Wali Kota Madiun F Bagus Panuntun.
Namun, ketegangan itu justru lenyap saat Sang Merah Putih berada di tangannya. Perasaan takut berganti menjadi ketenangan untuk menuntaskan tugas yang telah dipersiapkannya selama berbulan-bulan.
’’Pas menerima bendera, rasa takut seperti langsung hilang dan berubah menjadi tenang,’’ kenang Anggraini, Senin (1/9).
Kepercayaan menjadi pembawa baki tidak didapat secara instan. Putri pasangan Joko Wiyono dan Meitien Astuti itu harus melewati tahapan seleksi hingga menjalani latihan sekitar dua sampai tiga bulan.
Fisik dan mentalnya digembleng selama persiapan. Salah satunya melalui latihan membawa baki yang diberi beban batu atau paving untuk membentuk kekuatan sekaligus menjaga kestabilan tangan.
Anggraini juga rutin menjalani latihan plank agar tubuh tetap tegap. Namun, dari seluruh rangkaian persiapan tersebut, rasa lelah menjadi salah satu ujian terberat yang harus dilawannya.
Dukungan sesama anggota Paskibraka menjadi penyemangatnya untuk bertahan hingga hari penugasan. Perjuangan sejak awal seleksi juga terus diingat ketika rasa lelah mulai datang.
’’Capek pasti dirasakan setiap hari. Tetapi, kami saling menyemangati dan mengingat perjuangan sejak awal,’’ tuturnya.
Kerja keras itu akhirnya terbayar ketika Anggraini sukses menjalankan tugas sebagai pembawa baki. Baginya, pengalaman menjadi bagian dari Paskibraka Kota Madiun bukan sekadar kebanggaan, tetapi juga tempaan disiplin, tanggung jawab, keberanian, dan kekompakan.
Pengalaman tersebut turut menjadi bekal yang ingin dibagikannya kepada adik kelas yang kelak mengikuti jejaknya. Menurut Anggraini, kesiapan mental sama pentingnya dengan kemampuan fisik.
’’Fisik bisa dilatih, tetapi mental yang tenang dan rendah hati harus dibentuk dari kebiasaan sehari-hari. Jangan takut salah saat latihan, yang penting tetap mau belajar,’’ pesannya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto