Harga Daging Ayam Melonjak 18 Persen, Inflasi Kota Madiun Tembus 0,46 Persen

Erlita H • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 18:29 WIB
HARGA NAIK: Sejumlah komoditas pangan seperti daging ayam ras, beras, dan cabai rawit menjadi pemicu inflasi Kota Madiun pada Agustus 2026. Ilustrasi Bagas Bimantara/Jawa Pos Radar Madiun
HARGA NAIK: Sejumlah komoditas pangan seperti daging ayam ras, beras, dan cabai rawit menjadi pemicu inflasi Kota Madiun pada Agustus 2026. Ilustrasi Bagas Bimantara/Jawa Pos Radar Madiun

Jawa Pos Radar Madiun – Tren deflasi Kota Madiun berbalik arah pada Agustus 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Kota Madiun sebesar 0,46 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m), dengan daging ayam ras menjadi penyumbang terbesar setelah harganya melonjak 18,02 persen.

Kepala BPS Kota Madiun Abdul Azis mengatakan, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan Juli 2026 yang mengalami deflasi 0,12 persen.

Bahkan, pada Agustus 2024 dan Agustus 2025 Kota Madiun sama-sama mencatat deflasi 0,07 persen.

’’Inflasi bulan Agustus Kota Madiun sebesar 0,46 persen, berbeda dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi 0,12 persen,’’ ujarnya, Rabu (2/9).

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi motor utama kenaikan harga.

Kelompok tersebut mengalami inflasi 1,15 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,33 persen.

Daging ayam ras mencatat kenaikan harga 18,02 persen dengan andil inflasi 0,22 persen.

Komoditas tersebut menjadi penyumbang terbesar inflasi Kota Madiun sepanjang Agustus.

Tekanan harga juga datang dari beras yang naik 1 persen dengan andil 0,04 persen.

Sementara harga cabai rawit melonjak 11,05 persen dan memberikan andil 0,04 persen terhadap inflasi.

Selain ketiga komoditas tersebut, pisang dan air kemasan turut memberikan tekanan terhadap laju inflasi.

Azis menyebut kenaikan harga daging ayam ras antara lain dipengaruhi meningkatnya permintaan seiring kembali aktifnya kegiatan sekolah. Termasuk kebutuhan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Tekanan terhadap harga pangan berpotensi berlanjut seiring ancaman kemarau panjang.

Rendahnya curah hujan dikhawatirkan mengganggu produksi beras maupun komoditas hortikultura akibat keterbatasan pasokan air.

’’Perlu diantisipasi, terutama bahan pangan agar pasokannya tetap terjaga. Kekurangan air berpotensi mengganggu produksi bahan pangan dan komoditas hortikultura,’’ jelas Azis.

Di sisi lain, laju inflasi tertahan penurunan harga sejumlah komoditas. Bawang merah mengalami deflasi 19,41 persen dengan andil minus 0,09 persen.

Harga bensin juga turun 0,37 persen dengan andil minus 0,02 persen. Penurunan tersebut terjadi menyusul penyesuaian harga BBM nonsubsidi sejak awal Agustus.

Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi Kota Madiun tercatat 3,41 persen. Sedangkan secara tahun kalender (year-to-date/ytd), inflasi sepanjang Januari–Agustus 2026 mencapai 2,07 persen.

BPS Kota Madiun mengingatkan stabilitas pasokan pangan perlu menjadi perhatian untuk meredam tekanan harga, terutama di tengah kondisi kemarau.

’’Pemkot perlu menjaga pasokan, khususnya bahan pangan. Dari bulan ke bulan, pendorong inflasi masih banyak berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau,’’ pungkasnya. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
harga daging ayam ras inflasi kota madiun harga cabai rawit BPS Kota Madiun