Madiun Menari Putar Uang Rp 1,5 Miliar, Jasa Rias hingga Kuliner Kecipratan

Erlita H • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 13:12 WIB
GERAKKAN EKONOMI: Ribuan perempuan dari berbagai kelompok usia mengikuti Madiun Menari Beksan Parisuko di Jalan Pahlawan, Kota Madiun, Sabtu (29/8). BAGAS BIMANTARA/JAWA POS RADAR MADIUN
GERAKKAN EKONOMI: Ribuan perempuan dari berbagai kelompok usia mengikuti Madiun Menari Beksan Parisuko di Jalan Pahlawan, Kota Madiun, Sabtu (29/8). BAGAS BIMANTARA/JAWA POS RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Ribuan penari yang memadati Jalan Pahlawan dalam Madiun Menari Beksan Parisuko bukan hanya menghadirkan kemeriahan seni budaya.

Pagelaran pada Sabtu (29/8) itu diperkirakan ikut menggerakkan perputaran uang hingga Rp1,5 miliar.

Dampak ekonomi Madiun Menari menyebar ke berbagai sektor. Mulai jasa rias dan salon, tata busana, penyewaan kostum, kuliner, ekonomi kreatif, fotografi, hingga photobooth.

Kabid Pariwisata Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Madiun Yoga Pratomo mengatakan, kebutuhan rias dan busana setiap penari diperkirakan mencapai Rp150 ribu hingga Rp250 ribu.

Dengan jumlah sekitar 4.500–5.000 penari, belanja untuk kebutuhan tersebut saja ditaksir mendekati Rp1 miliar.

Angka itu belum memperhitungkan pengeluaran pengunjung untuk kuliner, produk ekonomi kreatif, maupun berbagai jasa selama kegiatan berlangsung.

’’Secara keseluruhan, perputaran uang selama pelaksanaan pagelaran diperkirakan mencapai sekitar Rp1,5 miliar,’’ kata Yoga, Minggu (6/9).

Besarnya dampak ekonomi tersebut tidak terlepas dari tingginya animo masyarakat.

Setiap penari, menurut Yoga, rata-rata datang bersama keluarga, guru, maupun teman.

Belum lagi masyarakat yang sengaja datang untuk menyaksikan Madiun Menari.

Disbudparpora Kota Madiun memperkirakan jumlah orang yang terlibat maupun menyaksikan pagelaran tersebut mencapai sekitar 250 ribu.

Pengunjung tidak hanya berasal dari Kota Madiun. Masyarakat dari sejumlah daerah sekitar juga disebut turut datang menyaksikan Beksan Parisuko.

’’Pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari Kota Madiun, tetapi juga dari sejumlah kabupaten dan kota di sekitarnya,’’ ujarnya.

Pemkot Madiun berencana menjadikan Madiun Menari sebagai agenda berkelanjutan.

Bahkan, Beksan Parisuko karya Ninik Sulistyowati, mantan Kabid Kebudayaan Disbudparpora Kota Madiun, diharapkan dapat diusulkan masuk Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata.

Pagelaran tersebut merupakan gagasan Plt Wali Kota Madiun F Bagus Panuntun sebagai ruang untuk mewadahi sekaligus membangkitkan seni dan budaya tradisional.

Jika nantinya berhasil masuk KEN, Madiun Menari berpeluang mendapatkan panggung yang lebih luas sebagai agenda budaya Kota Madiun.

Kendati demikian, sejumlah catatan evaluasi telah dikantongi Disbudparpora Kota Madiun.

Salah satunya menyangkut pengamanan dan pembatasan area penonton agar pertunjukan berikutnya dapat dinikmati dengan lebih nyaman.

Durasi pementasan juga menjadi bahan evaluasi. Sejumlah penonton menginginkan pertunjukan berlangsung lebih lama.

’’Meski berlangsung sukses, sejumlah evaluasi tetap akan dilakukan untuk pelaksanaan kegiatan berikutnya,’’ pungkas Yoga. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
madiun menari Beksan Parisuko perputaran uang kota madiun Karisma Event Nusantara