DWP Cabdindik Madiun Belajar Kelola Pojok Baca, Ibu Jadi Teladan Literasi Anak

Arif Santosa • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 20:37 WIB
DWP Cabdindik Wilayah Madiun melakukan kunjungan literasi ke Pojok Baca Kartini di Gentengkali, Surabaya, Senin (7/9).
DWP Cabdindik Wilayah Madiun melakukan kunjungan literasi ke Pojok Baca Kartini di Gentengkali, Surabaya, Senin (7/9).

Jawa Pos Radar Madiun – Gerakan literasi tak harus bermula dari ruang baca besar dengan fasilitas mewah. Kebiasaan sederhana seorang ibu membaca di rumah justru bisa menjadi pintu pertama bagi anak untuk mengenal dan mencintai buku.

Semangat tersebut mengemuka saat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Wilayah Madiun melakukan kunjungan literasi ke Pojok Baca Kartini di Gentengkali, Surabaya, Senin (7/9).

Pojok Baca Kartini yang dikelola DWP Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur menjadi tempat DWP Cabdindik Madiun bertukar pengalaman mengenai pengembangan budaya baca. Termasuk strategi mengelola ruang literasi agar tidak sekadar menjadi tempat menyimpan koleksi buku.

Kunjungan tersebut juga menjadi kesempatan bagi pengurus DWP Cabdindik Madiun untuk mengembangkan Pojok Baca Mawatsari yang selama ini mereka kelola.

Ketua DWP Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Mardiana Aries Agung Paewai menekankan bahwa gerakan literasi perlu dimulai dari lingkungan terdekat anak. Dalam hal ini, ibu memiliki posisi penting sebagai teladan di dalam keluarga.

Kebiasaan orang tua membaca, menurut dia, akan lebih mudah ditiru anak dibanding sekadar meminta mereka rajin membuka buku.

’’Melalui ibu, anak akan menilai dan mencontoh. Apabila sejak dini anak melihat ibu aktif membaca dan berliterasi, minat baca anak akan tumbuh dengan subur,’’ ujarnya.

Mardiana turut mengapresiasi DWP Cabdindik Madiun yang disebut menjadi DWP cabang dinas pendidikan pertama yang berinisiatif berkunjung ke Pojok Baca Kartini.

Baca Juga: Cabdindik Madiun Gandeng Kejari Ngawi, Kawal Revitalisasi Tujuh Sekolah

Ketua DWP Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Mardiana Aries Agung Paewai.
Ketua DWP Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Mardiana Aries Agung Paewai.

Dalam kunjungan tersebut, pengurus juga mendapat berbagai masukan mengenai pengelolaan pojok baca dari Suminarti. Salah satu pesannya, keterbatasan ruang maupun fasilitas seharusnya tidak menghalangi upaya membangun budaya literasi.

’’Pojok baca yang ideal tidak harus besar, tetapi yang paling penting memiliki manfaat besar,’’ jelasnya.

Menurut Suminarti, keberhasilan pojok baca dapat dilihat antara lain dari pemanfaatannya oleh masyarakat, baik melalui kunjungan ke koleksi fisik maupun penggunaan layanan digital.

Koleksi buku juga perlu diperbarui secara berkala agar tetap relevan dengan perkembangan zaman dan minat pembaca. Termasuk menyesuaikan pilihan bacaan dengan karakter generasi muda seperti generasi Z.

Pojok baca yang dikelola DWP juga didorong semakin terbuka bagi masyarakat. Dengan begitu, keberadaannya dapat berkembang menjadi ruang bersama untuk membaca, belajar, hingga menghasilkan karya.

Konsep tersebut sebenarnya mulai dijalankan melalui Pojok Baca Mawatsari. Salah satu program unggulan yang dikembangkan adalah Ibu-Ibu DWP Menulis.

Program Ibu-Ibu DWP Menulis telah dua kali digelar dalam format workshop. Kegiatan pertama membahas penulisan pentigraf, sedangkan workshop berikutnya mengangkat penulisan puisi.

Menariknya, karya peserta tidak berhenti setelah workshop selesai. Tulisan para anggota kemudian dihimpun dan diterbitkan menjadi buku karya ibu-ibu DWP Cabdindik Wilayah Madiun.

Program tersebut direncanakan menjadi agenda tahunan. Selain mengajak membaca, langkah itu diharapkan mampu mendorong anggota DWP menjadi produsen karya literasi.

Pojok Baca Mawatsari juga memiliki sejumlah kegiatan lain seperti DWP Mendongeng, DWP Kunjung Literasi Budaya, dan DWP Mengajar.

Berbagai aktivitas tersebut diarahkan untuk melibatkan keluarga maupun lingkungan sekitar dalam gerakan literasi.

Mardiana kembali mengingatkan bahwa keluarga memiliki peran mendasar dalam membentuk kebiasaan membaca anak. Buku, menurut dia, menjadi salah satu jalan untuk memperluas wawasan mereka sejak dini.

’’Buku adalah jendela dunia. Ibulah yang pertama kali membukakan jendela itu bagi putera-puteranya. Teruslah menjadi teladan literasi bagi putera-putera kita, bagi keluarga kita. Ibu yang selalu inspiratif dan aktif,’’ pesannya. (*)

Editor : Mizan Ahsani
dharma wanita cabdindik madiun surabaya pojok baca