Kadindik Jatim: Sekolah Tak Berinovasi Bisa Ditinggalkan Masyarakat

Erlita H • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 16:08 WIB
GREEN SCHOOL: Inovasi Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) yang dikembangkan SMKN 1 Madiun dan terintegrasi dengan konsep living laboratory sebagai bagian dari pembelajaran di lingkungan sekolah.
GREEN SCHOOL: Inovasi Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) yang dikembangkan SMKN 1 Madiun dan terintegrasi dengan konsep living laboratory sebagai bagian dari pembelajaran di lingkungan sekolah.

Jawa Pos Radar Madiun – Sekolah yang berhenti berinovasi berisiko kehilangan relevansi hingga ditinggalkan masyarakat.

Karena itu, kepala sekolah dituntut menjadi pemimpin yang kreatif dan adaptif terhadap perubahan zaman maupun kebutuhan peserta didik.

Pesan tersebut mengemuka dalam Pengarahan dan Ceramah Umum Penguatan Kepemimpinan Pendidikan Bersama Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Generasi Emas 2045 di Aula SMKN 1 Madiun, Rabu (9/9).

Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai mengatakan, kepemimpinan pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada perkembangan internal sekolah. Dampaknya harus dapat dirasakan masyarakat.

’’Pendidikan itu bukan hanya bagaimana lingkungan sekolah berkembang, tetapi masyarakat juga mengikuti dan mendapatkan manfaat yang besar,’’ ujarnya.

Menurut Aries, sekolah tidak bisa mengandalkan satu terobosan kemudian berhenti berbenah.

Inovasi harus terus dilakukan agar layanan pendidikan tetap sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan peserta didik.

’’Kalau tidak pernah berinovasi, produk itu tidak akan laku. Begitu juga sekolah. Sekolah tidak akan diminati masyarakat kalau tidak berinovasi,’’ tegasnya.

Aries menilai perkembangan SMA dan SMK di Jawa Timur secara umum cukup baik. Namun, masih terdapat sekolah yang perkembangannya relatif lambat.

Karena itu, selain mendorong inovasi sekolah, lingkungan belajar yang bersih dan nyaman, kualitas guru, serta kepemimpinan kepala sekolah harus terus diperkuat.

Sekretaris Utama Lembaga Administrasi Negara (LAN) Andi Taufik menambahkan, kualitas pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja tim hingga proses pembelajaran di sekolah.

Menurut dia, sejumlah sekolah di Jawa Timur bahkan telah menghasilkan inovasi yang berpotensi menjadi role model nasional.

Salah satunya SMKN 1 Madiun yang mengembangkan inovasi Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) terintegrasi dengan living laboratory.

Inovasi tersebut memungkinkan lingkungan sekolah menjadi bagian dari ruang pembelajaran.

Namun, Andi mengingatkan capaian yang telah diraih tidak boleh membuat satuan pendidikan berhenti melakukan transformasi.

’’Kalau lingkungan internal berubah, dunia juga berubah secara global, sekolah harus dapat menyesuaikan kurikulum dan strategi pembelajarannya. Jadi, harus adaptif dan tidak boleh stuck,’’ jelas Andi.

Kemampuan beradaptasi juga diperlukan agar kompetensi yang diperoleh siswa tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat maupun dunia kerja.

Menurut Andi, keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya dilihat dari jumlah siswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan.

Kompetensi yang diperoleh harus dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata setelah mereka lulus.

’’Hasil pendidikan harus memberikan dampak dan hasil nyata, bukan hanya output berupa jumlah,’’ pungkasnya. (err/her/*)

Editor : Hengky Ristanto
kepemimpinan pendidikan SMKN 1 Madiun generasi emas 2045 Inovasi Sekolah