BRIN Temukan Bakteri Penyebab Demam Tikus di Madiun, Warga Diminta Waspada

Erlita H • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 13:38 WIB
WASPADA DINI: Penelitian BRIN di Kelurahan Manisrejo, Kota Madiun, menemukan Rickettsia typhi pada pinjal tikus. DOK JAWA POS RADAR MADIUN
WASPADA DINI: Penelitian BRIN di Kelurahan Manisrejo, Kota Madiun, menemukan Rickettsia typhi pada pinjal tikus. DOK JAWA POS RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan Rickettsia typhi pada pinjal tikus di Kelurahan Manisrejo, Kota Madiun.

Bakteri penyebab murine typhus atau demam tikus tersebut terdeteksi pada vektor, tetapi sejauh ini belum ditemukan bukti penularan kepada manusia.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi OR Kesehatan BRIN Ristyanto mengatakan, penelitian di Manisrejo menemukan tiga spesies tikus dan satu spesies cecurut.

Tiga jenis tikus tersebut adalah tikus rumah (Rattus tanezumi), tikus got (Rattus norvegicus), dan mencit (Mus musculus).

Dari hewan yang diteliti, ditemukan pinjal Xenopsylla cheopis. Pemeriksaan terhadap 10 ekor pinjal menunjukkan hasil positif mengandung Rickettsia typhi.

’’Jadi, bisa disimpulkan bahwa siklus penularan Rickettsia typhi kemungkinan terjadi di daerah tersebut, khususnya antartikus. Semoga saja pada manusia tidak ditemukan,’’ ujar Ristyanto, Minggu (13/9).

Ristyanto menekankan bahwa temuan Rickettsia typhi tersebut belum menunjukkan adanya penularan kepada manusia di Kota Madiun.

Hasil penelitian lebih ditempatkan sebagai peringatan dini agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang berkaitan dengan tikus dan vektornya.

Salah satu langkah yang dinilai penting adalah menjaga sanitasi lingkungan sekaligus mengendalikan populasi tikus.

Pengendalian dapat dilakukan menggunakan perangkap ataupun lem tikus.

Sedangkan penggunaan racun tikus disarankan menjadi pilihan terakhir karena memiliki risiko terhadap manusia maupun hewan lainnya.

’’Intinya, sanitasi individu dan sanitasi lingkungan merupakan solusi terbaik untuk mengendalikan Rickettsia typhi,’’ jelasnya.

Sejauh ini, BRIN belum mengetahui seberapa besar persoalan Rickettsia typhi pada manusia di Kota Madiun.

Meski demikian, infeksi bakteri tersebut perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan demam tinggi dengan gejala yang menyerupai penyakit lain, termasuk tifoid.

Dalam kondisi tertentu, keterlambatan penanganan juga berpotensi memicu komplikasi.

Ristyanto menyebut penelitian sebelumnya juga menemukan adanya kasus yang berkaitan dengan Rickettsia typhi pada sebagian kasus leptospirosis.

’’Antara Rickettsia typhi dan leptospirosis kadang-kadang bisa seperti mix. Dari penelitian sebelumnya, paling tidak 5–10 persen kasus leptospirosis juga memiliki Rickettsia typhi,’’ ungkapnya.

Kota Madiun dipilih sebagai lokasi penelitian karena karakteristiknya sebagai kota transit dengan mobilitas penduduk tinggi.

Kepadatan penduduk serta perkembangan kawasan permukiman turut menjadi pertimbangan dalam memetakan potensi penyakit zoonosis.

Sebelum Manisrejo, penelitian serupa telah dilakukan di Malang, Pasuruan, Surabaya, dan Gresik.

Ristyanto kembali mengingatkan agar hasil penelitian tidak dimaknai sebagai bukti bahwa murine typhus telah menjangkiti warga Kota Madiun.

’’Ini bukan berarti penyakit itu sudah ada pada manusia. Mudah-mudahan tidak ada. Ini untuk kewaspadaan dini saja,’’ tegasnya. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
Rickettsia typhi demam tikus Kelurahan Manisrejo kota madiun BRIN