Jawa Pos Radar Madiun – Petugas pemadam kebakaran Kota Madiun nyaris tak berhenti berjibaku dengan api selama musim kemarau.
Dalam sehari, Minggu (13/9), sedikitnya enam kebakaran lahan dan semak belukar terjadi di sejumlah titik.
Enam lokasi tersebut tersebar di Winongo, Josenan Ngebrak, Cupumanik Demangan, belakang Perumahan Taman Asri Banjarejo, Janur Sari Manisrejo, serta satu lokasi lainnya.
Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Satpol PP dan Damkarmat Kota Madiun Hengky Wahyu Setyo Wibowo mengatakan, kebakaran lahan di Kota Madiun mendominasi laporan selama musim kemarau.
’’Laporan kebakaran lahan kosong atau semak belukar biasanya mendominasi kejadian harian, terutama saat musim kemarau,’’ ujarnya, Senin (14/9).
Catatan Damkarmat Kota Madiun menunjukkan, sepanjang Agustus terdapat 27 kejadian kebakaran.
Sedangkan hingga September tercatat 14 kejadian. Totalnya mencapai 41 kasus kebakaran dalam dua bulan terakhir.
Dari tiga kecamatan, Manguharjo mencatat kejadian terbanyak dengan 20 kasus.
Disusul Kecamatan Taman sebanyak 15 kejadian dan Kartoharjo enam kejadian.
Menurut Hengky, lahan kosong, kebun yang tidak terawat, kawasan perbatasan, hingga area sekitar rel kereta api memiliki risiko kebakaran lebih tinggi saat kemarau.
Kelembapan yang rendah membuat rumput, semak, dan dedaunan mengering sehingga mudah terbakar. Embusan angin kencang juga membuat api lebih cepat merambat.
Selain faktor cuaca dan kondisi lahan, aktivitas manusia menjadi salah satu risiko yang diwaspadai.
Mulai pembakaran sampah tanpa pengawasan, membersihkan lahan dengan cara dibakar, hingga membuang puntung rokok sembarangan.
Setiap menerima laporan, satu hingga dua regu diterjunkan sesuai skala kebakaran.
Petugas biasanya membuat fire break atau sekat untuk memutus rambatan api sebelum melakukan pemadaman dan pembasahan material yang mudah terbakar.
Penanganan menjadi lebih sulit ketika sejumlah kebakaran terjadi hampir bersamaan.
Kondisi tersebut membuat kekuatan petugas dan kendaraan pemadam harus dibagi ke beberapa lokasi.
’’Kondisi tersebut membuat armada dan personel harus dibagi ke sejumlah titik,’’ terang Hengky.
Apabila membutuhkan tambahan pasokan air, petugas memanfaatkan hidran kota serta suplai dari PDAM maupun DLH.
Bantuan Damkar Kabupaten Madiun dan Magetan juga dapat diminta jika skala kejadian membutuhkan tambahan personel maupun armada.
Menghadapi tingginya risiko kebakaran selama musim kemarau, Damkarmat Kota Madiun meningkatkan patroli di kawasan rawan.
RT/RW serta Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) di tingkat kelurahan turut diberdayakan untuk memberikan respons awal sembari menunggu petugas tiba.
Hengky mengingatkan masyarakat tidak membakar sampah maupun membersihkan lahan menggunakan api secara sembarangan. Terlebih di lokasi yang dipenuhi rumput dan semak kering.
’’Pencegahan jauh lebih penting. Jangan sampai api kecil akibat membakar sampah justru merembet dan menyebabkan kebakaran yang lebih besar,’’ tandasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto