Jawa Pos Radar Madiun – Ancaman kemarau panjang mulai diantisipasi sektor pertanian Kota Madiun.
Pasalnya, hampir 90 persen lahan pertanian setempat mengandalkan pompa untuk memenuhi kebutuhan irigasi.
Petani pun diminta lebih bijak menggunakan air guna mengantisipasi potensi kekeringan.
Kepala Bidang Pertanian Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Madiun Niken Febrianti mengatakan, hingga kini belum ada laporan kendala serius akibat kekurangan air di lahan pertanian.
Kendati demikian, penggunaan air tanah secara terus-menerus tetap perlu diwaspadai.
’’Kalau di lahan pertanian kami, hampir 90 persen sudah menggunakan pompa. Jadi, irigasinya mengandalkan pompa,’’ ujarnya, Senin (21/9).
Menurut Niken, kewaspadaan perlu ditingkatkan menyusul potensi fenomena El Nino yang diperkirakan dapat berlangsung hingga akhir 2026 atau awal 2027.
Jika kemarau panjang terjadi, pengambilan air tanah secara masif untuk kebutuhan pertanian berpotensi menurunkan muka air tanah. Kondisi tersebut dikhawatirkan memengaruhi ketersediaan air bagi petani.
Karena itu, DKPP Kota Madiun meminta petani menyesuaikan jenis tanaman dengan ketersediaan air di masing-masing lahan.
Salah satu alternatifnya adalah mengganti tanaman padi dengan palawija yang membutuhkan lebih sedikit air.
Niken mencontohkan kacang hijau sebagai komoditas yang dapat dipilih petani ketika pasokan air terbatas.
Selain membutuhkan lebih sedikit irigasi dan pemeliharaan, tanaman tersebut juga memiliki manfaat bagi kesuburan tanah.
’’Akar kacang hijau dapat mengikat nitrogen dari udara bebas sehingga tanah cenderung lebih subur,’’ jelasnya.
Alternatif lainnya, petani dapat memilih varietas padi yang lebih adaptif terhadap kondisi lahan kering, seperti padi gogo.
Pemilihan komoditas tersebut diharapkan dapat membantu petani mempertahankan aktivitas pertanian ketika ketersediaan air berkurang.
Di sisi lain, DKPP telah memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air.
Di Kecamatan Kartoharjo, Kelurahan Rejomulyo dan Tawangrejo termasuk kawasan yang perlu diwaspadai.
DKPP juga berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk memetakan kondisi jaringan irigasi.
Termasuk mengidentifikasi saluran yang mengalami kerusakan dan membutuhkan rehabilitasi.
Namun, Niken menegaskan, perbaikan infrastruktur irigasi harus dibarengi upaya menjaga kelestarian sumber air dan vegetasi.
Dengan begitu, pemanfaatan air tanah untuk kebutuhan pertanian dapat dilakukan secara berkelanjutan.
’’Air jangan hanya diambil, tetapi harus ada pengembalian juga,’’ tegasnya.
Selain menghemat air, petani disarankan mengembalikan jerami sisa panen ke lahan.
Langkah tersebut bertujuan menambah bahan organik sekaligus membantu tanah mempertahankan kelembapan.
Penggunaan pupuk anorganik juga perlu disesuaikan dengan ketersediaan air.
Sebab, pemupukan dalam kondisi lahan kekurangan air berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman, terutama pada fase awal.
’’Kalau tidak ada air, penggunaan pupuk anorganik yang sifatnya panas bisa menjadi bumerang bagi tanaman. Apalagi di awal pertumbuhan,’’ ujarnya.
Niken berharap petani tidak panik menghadapi potensi kemarau panjang.
Meski demikian, langkah antisipasi perlu dilakukan sejak dini agar aktivitas pertanian tetap berjalan dan kebutuhan air tanaman dapat terpenuhi.
’’Harapannya kekeringan ini tidak parah dan tidak berlangsung panjang sehingga petani masih bisa mengakses air,’’ pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto