Ekonomi Kota Madiun Tumbuh 6,88 Persen, Pariwisata Jadi Salah Satu Penggerak

Erlita H • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 19:03 WIB
PENGGERAK EKONOMI: Aktivitas perdagangan dan kunjungan wisatawan di Kota Madiun turut menggerakkan sektor kuliner, perhotelan, dan UMKM. DOK JAWA POS RADAR MADIUN
PENGGERAK EKONOMI: Aktivitas perdagangan dan kunjungan wisatawan di Kota Madiun turut menggerakkan sektor kuliner, perhotelan, dan UMKM. DOK JAWA POS RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Perekonomian Kota Madiun menunjukkan tren pertumbuhan pada triwulan II 2026. Pertumbuhan ekonomi mencapai 6,88 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 5,45 persen.

Aktivitas pariwisata dan berbagai kegiatan yang mendatangkan pengunjung dari luar daerah diduga menjadi salah satu penggeraknya. Namun, pertumbuhan tersebut belum tentu berbanding lurus dengan penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pengamat ekonomi Universitas PGRI Madiun (Unipma) Anggita Langgeng Wijaya mengatakan, peningkatan aktivitas pariwisata berpotensi memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Terlebih, Kota Madiun memiliki karakteristik perekonomian yang tidak didominasi sektor pertanian. Aktivitas perdagangan, kuliner, perhotelan, dan jasa menjadi bagian penting dalam perputaran ekonomi setempat.

"Kita memang perlu mencermati apakah pada triwulan tersebut ada sejumlah kegiatan pemerintahan, event pariwisata, hiburan, atau karnaval yang mendorong peningkatan kunjungan ke Kota Madiun," ujarnya, Selasa (22/9).

Langgeng menjelaskan, meningkatnya kunjungan wisatawan dapat memberikan efek berganda terhadap perekonomian Kota Madiun.

Pengunjung dari luar daerah tidak hanya membelanjakan uang untuk kebutuhan wisata. Mereka juga berpotensi meningkatkan transaksi di sektor kuliner, perhotelan, perdagangan, transportasi, hingga berbagai layanan jasa.

Kondisi tersebut dapat mendorong perputaran uang sekaligus meningkatkan aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang telah beroperasi.

Namun, Langgeng mengingatkan bahwa meningkatnya aktivitas usaha belum tentu diikuti penambahan lapangan kerja baru dalam jumlah besar.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi yang ditopang sektor pariwisata dan konsumsi lebih banyak berpotensi menggerakkan usaha yang sudah ada. Sementara itu, dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja baru, khususnya sektor formal, masih perlu dikaji lebih lanjut.

"Pertumbuhan ini lebih terlihat dalam menggerakkan ekonomi UMKM yang sudah ada. Banyak usaha bergerak karena ada uang yang berputar, tetapi untuk menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar masih membutuhkan upaya lebih lanjut," jelasnya.

Di sisi lain, Langgeng menyoroti pentingnya mencermati perkembangan konsumsi rumah tangga dalam membaca kondisi perekonomian daerah.

Menurut dia, peningkatan nilai pengeluaran masyarakat tidak selalu menunjukkan penguatan daya beli. Sebab, kenaikan pengeluaran dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk meningkatnya harga barang dan jasa.

"Bisa saja pengeluaran meningkat karena harga barang dan jasa juga meningkat," katanya.

Karena itu, pertumbuhan ekonomi Kota Madiun sebesar 6,88 persen perlu dianalisis lebih jauh untuk mengetahui sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat.

Sejumlah indikator yang perlu diperhatikan antara lain perkembangan pendapatan masyarakat, penyerapan tenaga kerja, tingkat kemiskinan, serta kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Langgeng menilai, pertumbuhan ekonomi yang tinggi perlu diikuti peningkatan kesempatan kerja dan pendapatan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.

"Kalau sektor pariwisata ramai, UMKM, restoran, hotel, dan jasa lainnya memang terdampak positif. Tetapi untuk mengatakan bahwa pertumbuhan tersebut sudah meningkatkan pendapatan masyarakat secara keseluruhan, saya kira masih perlu dilihat lebih lanjut," pungkasnya. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
lapangan kerja umkm pariwisata Kota Madiun pertumbuhan ekonomi ekonomi kota madiun