Jawa Pos Radar Madiun – Ancaman banjir di Kota Madiun diantisipasi sejak dini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menggembleng sekitar 100 relawan desa/kelurahan tangguh bencana (destana) melalui pelatihan penyelamatan air atau water rescue. Relawan dari wilayah rawan banjir mendapat kuota lebih banyak.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Madiun Deddy Purnomo Santoso mengatakan, pelatihan menggandeng tim SAR Majelis Tafsir Alquran (MTA). Peserta dibekali teknik penyelamatan di perairan, resusitasi jantung paru (RJP), pengoperasian perahu karet, hingga evakuasi korban.
’’Praktik hari ini adalah kelanjutan dari pemberian materi di tenda kemarin. Hari ini semua yang disampaikan kemarin dipraktikkan di lapangan,’’ ujarnya di kawasan Bantaran Kali Madiun, kemarin (24/9).
Deddy menjelaskan, setiap kelurahan mengirimkan dua hingga empat relawan. Namun, wilayah rawan banjir seperti Tawangrejo, Kelun, dan Pilangbango mendapat kuota lebih banyak.
Menurut dia, pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan relawan sebagai penolong pertama ketika terjadi kedaruratan. Dengan begitu, penanganan awal dapat dilakukan sembari menunggu bantuan lanjutan dari BPBD.
’’Teman-teman yang sudah dilatih dan tergabung dalam destana nanti bisa menjadi pionir atau menjadi yang pertama ketika menangani kedaruratan,’’ jelas mantan Inspektur Pembantu IV tersebut.
Sementara itu, Plt Wali Kota Madiun F Bagus Panuntun meminta pelatihan kebencanaan digelar rutin. Sebab, bencana dapat terjadi sewaktu-waktu. Karena itu, kemampuan relawan perlu terus diasah agar siap menghadapi kondisi darurat.
’’Mitigasi, sosialisasi sekaligus praktik ini harus rutin. Kita tidak tahu kapan yang namanya bencana itu hadir,’’ tegasnya.
Bagus menambahkan, pemkot terus memetakan titik rawan bencana berdasarkan laporan BPBD dan relawan kelurahan. Hasil pemetaan tersebut bakal menjadi dasar penyiapan langkah mitigasi.
Dia juga mendorong keterlibatan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo dalam edukasi kebencanaan. Khususnya bagi masyarakat yang tinggal di sekitar sungai untuk mengantisipasi risiko banjir.
’’Bagaimana larinya air, bagaimana melindungi supaya tidak sampai banjir, itu yang tahu BBWS,’’ pungkasnya. (bgs/her)
Editor : Hengky Ristanto