Tak Cuma Jadi Penari, Kelas Inspirasi di Madiun Kenalkan Profesi di Balik Panggung

Erlita H • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 17:20 WIB
ASAH KETERAMPILAN: Peserta Kelas Inspirasi 1 Sanggar Sang Penari Kota Madiun mengikuti pelatihan bersama seniman tari Mila Rosinta di Hotel Merdeka. ERLITA HERMININGSIH/JAWA POS RADAR MADIUN
ASAH KETERAMPILAN: Peserta Kelas Inspirasi 1 Sanggar Sang Penari Kota Madiun mengikuti pelatihan bersama seniman tari Mila Rosinta di Hotel Merdeka. ERLITA HERMININGSIH/JAWA POS RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Menekuni dunia tari tak melulu berujung menjadi performer atau pelatih.

Ekosistem seni membuka sederet pilihan profesi di balik panggung. Mulai koreografer, promotor festival, kritikus, penulis kebudayaan, hingga penata cahaya.

Wawasan itulah yang dikenalkan kepada sekitar 50 peserta Kelas Inspirasi 1 yang digelar Sanggar Sang Penari Kota Madiun di Hotel Merdeka, Sabtu (26/9).

Peserta berusia 11 tahun hingga dewasa belajar langsung bersama seniman tari sekaligus pemilik Mila Art Dance School, Mila Rosinta.

Pemilik Sanggar Sang Penari Dyah Ayu Ratih Romadhoni mengatakan, kegiatan perdana tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi anggota sanggar.

Masyarakat umum yang memiliki minat terhadap seni tari juga dapat mengikutinya.

Kelas tersebut dirancang untuk memperkaya pengalaman penari muda dengan belajar dari mentor luar daerah.

’’Anak-anak tahu bagaimana belajar dengan pelatih dari luar dan mendapatkan ilmu serta pengalaman baru,’’ ujarnya.

Selama sekitar lima hingga enam jam, peserta tidak sekadar mempelajari gerakan.

Mereka digembleng mulai pengolahan tubuh, teknik dasar, fleksibilitas, kekuatan, pernapasan, hingga pengembangan koreografi tradisional dan kontemporer.

Mila juga membuka perspektif peserta mengenai luasnya peluang profesi di ekosistem seni.

Selain menjadi penari dan koreografer, mereka dapat mengembangkan kemampuan sebagai makeup artist, manajer, promotor festival, kritikus, penulis kebudayaan, maupun pekerja tata cahaya.

’’Menjadi penari bukan hanya soal menari. Ada banyak profesi lain yang bisa dikembangkan,’’ katanya.

Peserta turut didorong mengemas seni tradisi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Salah satunya dengan memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan budaya tanpa meninggalkan nilai tradisinya.

’’Saya ingin dalam waktu terbatas ini anak-anak kembali membara semangatnya untuk menari. Menjadi seniman membutuhkan proses dan latihan panjang,’’ tutur Mila.

Seniman tari dan koreografer Madiun Ninik Sulistyowati mengapresiasi penyelenggaraan kelas tersebut.

Namun, dia menilai kolaborasi antarsanggar tari di Kota Madiun masih perlu diperkuat.

’’Sayangnya, sanggar-sanggar tari di sini masih belum bisa menyatu. Padahal, kegiatan seperti ini bisa menjadi wadah menambah ilmu bagi pelatih maupun murid,’’ ujarnya.

Menurut Ninik, karakter tari Jawa Timuran yang berkembang di Madiun berpeluang semakin kaya melalui persinggungan dengan gaya Yogyakarta maupun pendekatan kontemporer. (err/her)

Editor : Hengky Ristanto
seni tari Sanggar Sang Penari Kota Madiun Kelas Inspirasi Mila Rosinta koreografer