Jawa Pos Radar Madiun – Krisis air bersih mulai dirasakan sebagian warga Kota Madiun.
Sedikitnya 9–11 kepala keluarga (KK) di Kelurahan Kelun dan Tawangrejo kesulitan mendapatkan air setelah sumber air tanah yang mereka andalkan menyusut.
BPBD Kota Madiun turun tangan dengan melakukan dropping air bersih. Distribusi telah berlangsung sejak Kamis (17/9) dan dilakukan setiap dua hari sekali untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Madiun Deddy Purnomo Santoso mengatakan, persoalan tersebut bukan kekeringan yang terjadi secara meluas.
Menurut dia, salah satu pemicunya adalah penggunaan pompa diesel untuk mengairi sawah selama musim kemarau.
Aktivitas tersebut diduga turut menurunkan muka air tanah sehingga memengaruhi debit sumur milik warga di sekitar lahan pertanian.
’’Sebenarnya tidak ada kekeringan di Kota Madiun. Namun, ini dampak dari penggunaan diesel untuk mengairi sawah petani,’’ ujarnya, Minggu (27/9).
Deddy menyebut warga terdampak selama ini masih mengandalkan sumur sebagai sumber utama air bersih. Ketika debit air tanah menyusut, kebutuhan sehari-hari pun terganggu.
Sebagai langkah penanganan sementara, BPBD melakukan dropping air bersih setiap dua hari sekali. Distribusi akan menyesuaikan kebutuhan warga terdampak.
Di sisi lain, Deddy menyebut kebutuhan air bersih sebenarnya juga dapat dipenuhi melalui jaringan Perumdam Tirta Taman Sari Kota Madiun.
Menurut dia, kemarau berkepanjangan yang dipengaruhi fenomena El Nino turut memperburuk kondisi.
Masyarakat pun diminta menghemat penggunaan air sekaligus mempertimbangkan pemanfaatan jaringan perpipaan.
’’Kami mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak dan beralih ke PDAM agar kebutuhan air bersih tetap terjaga,’’ pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto