Jawa Pos Radar Madiun - Tangan Via Adelia Putri perlahan mulai akrab dengan canting. Siswi kelas VI A SDN Manguharjo itu mencoba menggoreskan malam mengikuti pola di hadapannya.
Pengalaman pertama mencanting membuat bocah 12 tahun tersebut semakin penasaran dengan proses pembuatan batik.
’’Senang dan bahagia karena jadi tahu cara mencanting,’’ ujarnya, Jumat (2/10).
Selama ini, Via lebih mengenal batik sebagai pakaian. Perkenalannya bahkan dimulai sejak berusia sekitar lima tahun melalui kain gendong milik orang tuanya. Dari berbagai motif yang diketahuinya, Megamendung menjadi favorit.
Namun, pada peringatan Hari Batik Nasional di sekolahnya, Via mendapat pengalaman berbeda.
Tak hanya menjajal mencanting, dia juga mengikuti fashion show bersama siswa lainnya.
Mengusung tema Lestarikan Batik, Jaga Budaya Bangsa, kegiatan tersebut melibatkan seluruh siswa kelas I hingga VI, guru, dan tenaga kependidikan.
Mereka diajak membuat desain motif khas Kota Madiun, praktik mencanting, hingga berlenggak-lenggok mengenakan batik.
Guru SDN Manguharjo sekaligus salah seorang owner Batik Retno Dumilah Ely Inayah mengatakan, praktik membatik sengaja dipilih agar siswa tidak hanya mengenal produk jadinya.
’’Anak-anak biar lebih tahu bagaimana proses membatik dengan canting. Membatik itu tidak mudah, ada banyak proses yang harus dilalui,’’ jelasnya.
Mencanting, kata Ely, baru salah satu tahap. Setelah itu masih ada proses pewarnaan, pelorodan atau perebusan untuk menghilangkan malam, hingga penjemuran.
Dengan melihat dan mencoba secara langsung, siswa diharapkan memahami bahwa selembar kain batik melewati proses panjang sebelum akhirnya bisa dikenakan.
Pengenalan sejak dini tersebut sekaligus menjadi cara menumbuhkan kebanggaan terhadap batik. Bukan sekadar mengenakannya pada momentum tertentu.
’’Harapannya anak-anak bangga memakai batik dan mengetahui prosesnya. Dengan begitu, mereka bisa lebih mendalami dan mencintai budaya Indonesia,’’ tuturnya.
Antusiasme tak hanya datang dari siswa. Para orang tua turut mempersiapkan pakaian anak-anak untuk kegiatan tersebut.
Ely berharap pengalaman itu membekas sehingga pengenalan batik tidak berhenti pada seremoni Hari Batik Nasional.
’’Anak-anak bisa mengetahui identitas dan jati dirinya sebagai anak Indonesia, bangga, serta semakin mencintai batik,’’ pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto