PROBOLINGGO, Jawa Pos Radar Madiun – Aksi begal semakin menjadi-jadi. Mereka tidak hanya beraksi di malam hari. Buktinya, di Kota Probolinggo, kelompok begal berani beroperasi saat fajar mulai menyingsing.
Nahas harus dialami Siti Suhaini. Perempuan berumur 49 tahun itu menjadi korban aksi begal di Jalan Sunan Drajad, Kelurahan Kedunggaleng, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo.
Peristiwa tersebut dialaminya saat dalam perjalanan pulang dari pasar Senin (26/9) pagi. Tragisnya, kawanan begal jalanan itu tega membacok pelipis warga Kedunggaleng itu. Tidak hanya itu, punggungnya juga dikencingi oleh salah satu pelaku pembegalan. Sementara motornya dibawa kabur pelaku.
Dilansir dari JawaPos.com, awalnya korban berbelanja ke Kelurahan Pakistaji, Kecamatan Wonoasih, sekitar pukul 05.00 WIB. Ketika itu, ia diantar suaminya untuk membeli daging sapi bahan masak rawon. Keduanya lalu pulang kerumah setelah berbelanja.
Sayangnya, Siti Suhaini lupa tidak membeli bumbu rawon. Karena itu, korban kembali berbelanja bumbu rawon sekitar pukul 05.30 WIB. Dia berbelanja di tempat yang sama, di sekitar Papua Water Park.
Menantu korban, Maulida Adriyati Iskhak, 25, mengatakan, mertuanya itu memang kerap berbelanja kebutuhan dapur di sana. Namun, memang selalu diantar suaminya.
Saat akan membeli bumbu rawon, hari sudah agak terang. Karena itu, korban berangkat sendiri tanpa diantar suaminya.
“Memang sering berbelanja ke sana. Awalnya beli daging sapi. Lalu kembali lagi beli bumbu rawon. Karena dirasa hari cukup terang, ibu kembali ke pasar sendirian,” katanya, seperti dikutip dari JawaPos.com.
Setelah membeli bumbu rawon, korban langsung pulang. Namun, saat melintas di Jalan Sunan Drajad, korban dihadang empat pelaku. Lokasinya dekat Jembatan Sutami II. Tidak jauh dari rumah korban.
Dua di antara empat pelaku, awalnya parkir di dekat sebuah salon pangkas rambut. Sementara itu, dua pelaku yang lain menunggu di Jembatan Sutami II.
Begitu melihat korban melintas, dua pelaku yang menunggu mangsanya di dekat salon itu langsung memepet korban.
Salah satu pelaku yang memepet korban lantas mengeluarkan celurit dan menarik tangan Siti. Korban yang kaget tidak bisa berbuat apa-apa. Dia pun terpaksa menepi.
“Awalnya ibu dipepet oleh dua orang yang berboncengan. Tangan ibu ditarik. Mereka memaksa ibu menepi. Setelah menepi, kontak motor ibu diambil. Barulah ibu sadar kalau ia sedang dibegal,” kata Maulida.
Wajah kedua begal ditutup menggunakan penutup kepala. Lantaran itulah korban tak bisa mengenali wajah kedua pelaku.
Saat itu, korban sempat memohon agar pelaku tidak mengambil motornya. Bahkan Siti sempat menghiba kepada pelaku untuk tidak membunuhnya.
“Ibu bilang jangan bunuh saya. Saya masih memiliki anak yang sekolah. Tolong jangan diambil motor saya. Ini motor hasil kerja keras saya,” kata Maulida menirukan korban.
Bukannya iba, pelaku malah memukul kepala Siti. Korban pun langsung tersungkur. Saat itu, Siti sempat berteriak minta tolong ayng membuat kedua pelaku sontak panik.
Salah satu pelaku lantas membacok korban dengan celurit yang dibawanya. Bacokan itu mengenai pelipis kanan Siti.
Akibatnya, pelipis Siti mengalami luka robek yang cukup dalam. Lalu, goresan celurit mengenai pangkal hidung bagian atas korban.
Darah langsung mengucur dari luka bacok itu. Namun, pelaku seolah tidak puas.
Salah satu pelaku lantas mengencingi punggung korban. Baru setelah itu, mereka kabur membawa motor korban.
Masih dilansir dari JawaPos.com, Maulida juga mengungkapkan jika motor yang digunakan Suhaini merupakan jenis motor Honda Scoopy. Motor tersebut dibeli tahun 2017. Warnanya putih dengan nopol N 6181 RZ. Diperkirakan kerugian yang dialami korban mencapai Rp 20 jutaan.
Peristiwa nahas yang dialami Siti itu diketahui pertama kali oleh tetangganya yang kebetulan melintas di lokasi kejadian. Saat itu tetangganya melihat korban dalam keadaan terluka.
Siti pun meminta tetangganya itu untuk memberi kabar pada keluarga di rumah.
“Setelah itu, barulah banyak warga yang juga turut membantu dan membawa ibu ke rumah sakit Wolongan di Dringu,” lanjut Maulida.
Menurut Maulida, saat ibunya dibegal sebenarnya ada saksi yang melihat. Yaitu seorang penjual tempe. Namun, penjual tempe itu ketakutan.
“Jadi ada penjual tempe yang lewat dan melihat kejadian itu. Tapi, begitu melihat ibu dibegal, dia takut. Lalu putar balik,” tuturnya.
Sementara itu, Kapolsek Wonoasih Kompol Sumardjo mengatakan, kasus itu telah dilaporkan. Saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan.
“Saat ini masih proses lidik. Kami membutuhkan keterangan dari korban terkait kronologi lengkap saat kejadian. Sementara korban saat ini belum bisa ditemui. Masih perawatan dan akan dioperasi di rumah sakit,” ungkapnya. (jawapos.com/sib)
Editor : Budhi Prasetya