Jawa Pos Radar Madiun – Ketupat bukan sekadar makanan khas Lebaran.
Hidangan yang terbuat dari beras dan dibungkus anyaman janur ini menyimpan makna budaya dan spiritual yang mendalam, khususnya bagi masyarakat Indonesia.
Di balik sajian ketupat tersimpan nilai-nilai filosofi yang menjadikannya simbol penting dalam perayaan Idul Fitri, bahkan berlanjut hingga tradisi Lebaran Ketupat di hari kedelapan bulan Syawal.
Makna Filosofis di Balik Ketupat
Dalam tradisi Jawa, ketupat sering dikaitkan dengan ungkapan “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan.
Filosofi ini sangat selaras dengan semangat Idul Fitri, yakni saling memaafkan dan kembali ke hati yang bersih.
Anyaman janur mencerminkan kerumitan kesalahan manusia, sedangkan isi putih di dalamnya melambangkan kemurnian hati setelah menjalani puasa Ramadhan.
Tak hanya itu, ketupat juga dikenal memiliki empat makna budaya dalam tradisi Jawa:
Lebaran – Menandai akhir bulan Ramadhan dan datangnya hari kemenangan.
Luberan – Melambangkan limpahan rezeki dan semangat berbagi.
Leburan – Penghapusan dosa setelah puasa dan ampunan dari Allah.
Laburan – Pemurnian diri menuju fitrah.
Tradisi Lebaran Ketupat
Perayaan Lebaran Ketupat biasa digelar pada hari kedelapan bulan Syawal.
Tahun ini, Lebaran Ketupat diperkirakan jatuh pada Senin, 7 April 2025.
Di berbagai daerah, terutama di Jawa, perayaan ini menjadi ajang berkumpul keluarga, berbagi hidangan, dan mempererat silaturahmi.
Nama “Lebaran Ketupat” berasal dari kebiasaan masyarakat yang menyajikan ketupat sebagai hidangan utama.
Filosofi "ngaku lepat" kembali digaungkan sebagai pengingat untuk saling memaafkan dan merefleksi diri pasca-Ramadhan.
Di beberapa daerah, Lebaran Ketupat juga diisi dengan tradisi unik.
Seperti di Lombok, Nusa Tenggara Barat, ada tradisi “Perang Topat” yang mempertemukan umat Hindu dan Muslim dalam acara simbolik untuk memperkuat kerukunan dan toleransi.
Baca Juga: Gepeng Marak saat Libur Lebaran di Kota Madiun, Pengamen Pocong Diamankan Satpol PP
Ketupat dan Pelestarian Budaya
Tak hanya hadir saat Lebaran, ketupat juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di sejumlah daerah.
Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, misalnya, terdapat Kampung Ketupat yang memproduksi ketupat setiap hari, bukan hanya saat hari raya.
Ini menjadi bukti bahwa ketupat bukan hanya makanan musiman, melainkan bagian dari budaya yang terus dilestarikan.
Ragam Hidangan di Perayaan Lebaran Ketupat
Ketupat hampir tak pernah disajikan sendirian.
Berikut beberapa hidangan khas yang biasa menjadi pendamping dalam tradisi Lebaran Ketupat:
Opor Ayam – Ayam yang dimasak dalam santan dan rempah-rempah khas, menjadi pelengkap wajib ketupat.
Rendang – Daging sapi berbumbu pekat dan gurih yang berasal dari Minangkabau.
Sambal Goreng Ati – Olahan hati ayam atau sapi dengan bumbu pedas, memberikan sentuhan rasa yang kuat.
Sayur Lodeh – Sayuran seperti labu, kacang panjang, dan terong dimasak dengan santan.
Tahu dan Tempe – Gorengan sederhana yang tak pernah absen dari meja makan Lebaran.
Kerupuk – Pelengkap kriuk yang menambah selera, biasanya kerupuk udang atau kerupuk putih.
Kue Tradisional – Seperti kue lapis, kue cubit, atau putu yang dihidangkan sebagai pencuci mulut.
Baca Juga: Lawan Berat Menanti! Indonesia Kirim Pasukan Muda ke Phuket International Series 2025!
Simbol Harapan dan Kesucian
Janur kuning sebagai pembungkus ketupat bukan tanpa arti.
Warnanya yang cerah menyimbolkan harapan, kesucian, dan permohonan untuk kehidupan yang lebih baik pasca-Ramadhan.
Itulah mengapa ketupat menjadi ikon penting dalam Lebaran, bukan sekadar menu khas.
Perayaan Lebaran Ketupat menjadi penegasan bahwa Idul Fitri bukan hanya satu hari, melainkan proses panjang menuju kehidupan yang lebih baik.
Ketupat, dengan segala maknanya, mengajarkan kita untuk rendah hati, saling memaafkan, dan menjaga nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat. (ota)
Editor : Mizan Ahsani