Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Perjuangan di Balik Larisnya Nasi Rawon Pak Man Uyuk Madiun: Sempat Tak Laku, Tiga Kali Pula Diusir dari Tempat Jualan

Dwi NR Diliana • Sabtu, 7 Juni 2025 | 15:45 WIB
Sajian sepiring rawon di Warung Pak Man Uyuk.
Sajian sepiring rawon di Warung Pak Man Uyuk.

Jawa Pos Radar Madiun – Sepiring nasi rawon hangat dengan sambal tomat dan toge mentah bukan hanya menggugah selera, tetapi juga menyimpan kisah perjuangan hidup.

Begitulah yang dirasakan Sukatmi, 66, sosok di balik Warung Pak Man Uyuk Arumdalu di Jalan S Parman, Magetan.

Bersama sang suami, Man Uyuk, ia perlahan keluar dari jerat kemiskinan lewat usaha warung makan yang kini dikenal luas. “Saya buka sejak zaman presiden Pak SBY,” kenang Sukatmi.

Sebelum membuka warung, pasangan suami-istri ini menjalani hidup serba pas-pasan. Sukatmi bekerja serabutan, dari membantu memasak hingga mencuci piring di acara hajatan.

Sementara sang suami menerima pekerjaan memperbaiki genting atau talang demi mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Namun, seiring meningkatnya kebutuhan keluarga (terutama pendidikan dua anak mereka), Sukatmi mulai memutar otak. Ia mencoba peruntungan dengan membuka warung nasi rawon.

Perjuangan dari Nol, Tak Gentar Meski Sempat Tak Laku

Awal merintis warung tak mudah. Dengan modal dua kilogram daging sapi, Sukatmi memasak rawon pertama kalinya.

Tapi dagangannya tak habis terjual. Bukannya menyerah, ia tetap sabar dan konsisten.

“Saya dulu jualan rawon dan nasi jotos. Bisa dibilang saya yang pertama kali jual nasi jotos di sini. Juga jual mie bungkus, ketan, gorengan,” katanya.

Dulu warungnya buka dari sore sampai pagi. Kini jam operasional berubah, mulai pukul 07.00 hingga 17.00.

Ia juga menambah variasi menu agar pelanggan tak bosan, seperti nasi pecel, nasi sayur, gorengan tempe dan tahu kuning.

Dari Diusir Tiga Kali Hingga Dikenal Luas

Perjalanan membuka warung pun tak selalu mulus. Sukatmi mengaku sudah tiga kali pindah lokasi karena diusir, namun tetap bertahan.

“Yang penting ikhlas. Sampai difitnah pun saya jalani saja. Niatnya mencari nafkah yang halal untuk keluarga,” tuturnya.

Kini, dari dua kilogram daging, Sukatmi mampu mengolah tujuh kilogram daging sapi setiap hari.

Rawonnya dikenal lezat, dagingnya empuk, kuahnya hitam pekat karena kluwek, dan harganya hanya Rp15 ribu.

Warung Pak Man Uyuk menjadi pilihan banyak orang, terutama mereka yang bekerja atau melintas di Jalan S Parman.

Dengan tambahan segelas es teh yang sepat, pelanggan pun kerap kembali untuk menikmati masakan rumahan penuh cita rasa dan perjuangan.

“Cobaan orang jualan itu banyak. Jangan mudah menyerah,” tutupnya, dengan senyum penuh keikhlasan. (aan)

 

Editor : Mizan Ahsani
#magetan #warung #nasi rawon #madiun