Jawa Pos Radar Madiun – Bosan menyantap daging setelah Hari Raya Idul Adha? Gado-gado bisa jadi alternatif sempurna untuk memanjakan lidah.
Perpaduan sayuran rebus seperti tauge, kentang, selada, dan kol, disiram sambal kacang yang gurih, ditambah telur rebus, kerupuk, dan keripik melinjo. Kuliner ini bikin nagih!
Di Kota Madiun, sepiring gado-gado nikmat bisa dengan mudah ditemui. Beberapa titik favorit warga antara lain:
Jalan Bliton
Jalan Wuni (belakang Pasar Besar)
Jalan Janur Sari
Jalan Sendang
Jalan Kapten Saputra
Lapangan Gulun, dan masih banyak lagi.
Kuliner Khas Rakyat, Warisan dari Strategi Perang
Siapa sangka, makanan sederhana ini punya sejarah ratusan tahun.
Gado-gado dipercaya lahir pada masa penyerbuan Kesultanan Mataram ke markas VOC sekitar tahun 1628–1629, saat dipimpin Sultan Agung.
Kala itu, pasukan Mataram kehabisan logistik setelah persediaan beras dibakar oleh tentara VOC. Dalam kondisi genting, pasukan warok dari Ponorogo muncul dengan solusi kreatif:
Sayuran dari sawah direbus seadanya
Kacang tanah dihaluskan sebagai sambal
Karena dimakan tanpa nasi, makanan ini disebut “ngado” yang dalam Bahasa Jawa berarti menyantap lauk saja. Dari sanalah nama gado-gado berasal.
Gado-Gado Kini: Lebih Kaya, Lebih Lengkap
Jika dulu hanya terdiri dari sayur rebus dan bumbu kacang, sekarang gado-gado hadir lebih meriah:
Dilengkapi lontong atau nasi
Telur rebus
Kerupuk dan keripik melinjo
Terkadang ditambah tempe atau tahu
Tak hanya jadi pilihan sehat setelah pesta daging, gado-gado juga punya nilai historis sebagai makanan perlawanan rakyat Nusantara. (aan/naz)
Editor : Mizan Ahsani