Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Gado-Gado Jadi Andalan Usai Idul Adha, Ini Sejarahnya yang Ternyata Berawal dari Perang Mataram

Dwi NR Diliana • Senin, 9 Juni 2025 | 21:22 WIB
Ilustrasi gado-gado enak.
Ilustrasi gado-gado enak.

Jawa Pos Radar Madiun – Bosan menyantap daging setelah Hari Raya Idul Adha? Gado-gado bisa jadi alternatif sempurna untuk memanjakan lidah.

Perpaduan sayuran rebus seperti tauge, kentang, selada, dan kol, disiram sambal kacang yang gurih, ditambah telur rebus, kerupuk, dan keripik melinjo. Kuliner ini bikin nagih!

Di Kota Madiun, sepiring gado-gado nikmat bisa dengan mudah ditemui. Beberapa titik favorit warga antara lain:

Jalan Bliton

Jalan Wuni (belakang Pasar Besar)

Jalan Janur Sari

Jalan Sendang

Jalan Kapten Saputra

Lapangan Gulun, dan masih banyak lagi.

Kuliner Khas Rakyat, Warisan dari Strategi Perang

Siapa sangka, makanan sederhana ini punya sejarah ratusan tahun.

Gado-gado dipercaya lahir pada masa penyerbuan Kesultanan Mataram ke markas VOC sekitar tahun 1628–1629, saat dipimpin Sultan Agung.

Kala itu, pasukan Mataram kehabisan logistik setelah persediaan beras dibakar oleh tentara VOC. Dalam kondisi genting, pasukan warok dari Ponorogo muncul dengan solusi kreatif:

Sayuran dari sawah direbus seadanya

Kacang tanah dihaluskan sebagai sambal

Karena dimakan tanpa nasi, makanan ini disebut “ngado” yang dalam Bahasa Jawa berarti menyantap lauk saja. Dari sanalah nama gado-gado berasal.

Gado-Gado Kini: Lebih Kaya, Lebih Lengkap

Jika dulu hanya terdiri dari sayur rebus dan bumbu kacang, sekarang gado-gado hadir lebih meriah:

Dilengkapi lontong atau nasi

Telur rebus

Kerupuk dan keripik melinjo

Terkadang ditambah tempe atau tahu

Tak hanya jadi pilihan sehat setelah pesta daging, gado-gado juga punya nilai historis sebagai makanan perlawanan rakyat Nusantara. (aan/naz)

Editor : Mizan Ahsani
#sejarah #enak #gado-gado #kuliner #idul adha #makanan #madiun