Jawa Pos Radar Madiun – Di tengah hiruk-pikuk perjalanan panjang di Tol Trans Jawa, ada satu momen istimewa yang dinanti banyak pelancong: mampir ke Rest Area KM 575 B, Ngawi dan mencicipi semangkuk Rawon Pringsewu.
Bukan sekadar kuliner pengisi perut, rawon di rumah makan ini telah menjelma menjadi ikon rasa yang sulit dilupakan.
Di dalam mangkuknya, kuah hitam pekat mengkilat menggoda selera, menandakan perpaduan kluwek berkualitas dengan racikan bumbu warisan yang tak lekang zaman.
Di dalamnya, potongan daging sapi sandung lamur yang empuk menyerap semua kelezatan kaldu, menjadikan tiap suapan sebagai pengalaman rasa yang kaya dan otentik.
Rawon Pringsewu tetap setia pada pakem tradisional. Tidak ada modernisasi berlebihan yang mengubah karakternya.
Dagingnya lembut, bumbunya medok, dan kuahnya memiliki konsistensi pas—tidak terlalu encer, tidak pula terlalu kental.
Cita rasa gurih berpadu halus dengan sensasi pahit kluwek yang khas, lalu ditutup oleh kehangatan bumbu seperti jahe, ketumbar, dan bawang merah yang ditumis sempurna.
Sebagai pelengkap, sajian ini semakin lengkap dengan nasi putih hangat, tauge pendek yang segar, sambal terasi pedas, serta kerupuk udang yang renyah.
Beberapa pengunjung bahkan memilih menambah telur asin atau perkedel kentang, memperkaya dimensi rasa rawon yang sejak awal sudah begitu kuat karakternya.
Namun yang membuat rawon ini benar-benar istimewa adalah nuansa makannya.
Duduk di area semi-terbuka dengan angin tol yang berhembus pelan, sambil memandangi jalan raya dan aroma rawon yang menenangkan, menghadirkan suasana kuliner yang sulit ditemukan di tempat lain.
Terutama bagi para pemudik atau pelancong dari luar kota, momen mencicipi rawon ini sering kali menjadi highlight dari perjalanan mereka.
Rumah Makan Pringsewu di Rest Area KM 575 B, Ngawi memang bukan pemain baru dalam urusan kuliner. Konsistensinya dalam menjaga cita rasa otentik dan penyajian yang bersih membuat tempat ini tak pernah sepi pengunjung. (ifa/ota)
Editor : Ockta Prana Lagawira