Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Kue Tradisional Jawa yang Masih Populer Hingga Saat Ini, Sejarahnya, dan Kapan Disajikannya

Dony Christiandi • Minggu, 29 Juni 2025 | 21:50 WIB
Ilustrasi Klepon
Ilustrasi Klepon

Jawa Pos Radar Madiun – Selain budaya, Jawa juga memiliki warisan kuliner yang beragam, salah satunya adalah kue tradisional.

Kue-kue itu tidak hanya nikmat di lidah, namun juga menyimpan berbagai cerita sejarah dan makna budaya.

Namun, di tengah gempuran makanan modern, banyak kue tradisional mulai langka. Tapi ada juga yang masih popular higga saat ini.

Beberapa kue Jawa yang masih populer banyak ditemui di pasar tradisional dan menjadi favorit banyak orang karena rasanya yang lezat dan khas.

Berikut beberapa jenis kue tradisional Jawa yang masih populer berikut sejarah dan momen tradisional saat disajikannya.

1. Madumongso

Madumongso berasal dari Jawa Timur, khususnya Madiun, Ponorogo, dan Trenggalek, namun juga populer di Jawa Tengah.

Kue ini dikenal sejak abad ke-19, terbuat dari ketan hitam fermentasi, memberikan rasa manis-asam yang unik.

Biasanya disajikan saat lebaran, pernikahan, atau acara keluarga. Melambangkan kelezatan yang tahan lama seperti madu.

Baca Juga: Resep Es Krim Susu Lembut yang Mudah Dibuat dan Disukai Anak-Anak, Bisa Pakai UHT Ataupun Bubuk

2. Klepon

Klepon adalah kue tradisional Indonesia yang terkenal dengan bentuk bulat dan isian gula merah.

Asal-usulnya diduga berasal dari Jawa, khususnya Pasuruan, Jawa Timur. Nama “klepon” konon dari bunyi “plop” saat kue ini dimasukkan ke mulut.

Klepon sering disajikan saat acara selamatan, syukuran, atau sebagai camilan sore bersama teh atau kopi.

3. Wajik

Wajik adalah kue tradisional Indonesia yang terbuat dari beras ketan, gula merah, dan santan.

Kue ini memiliki cita rasa manis dan legit, serta tekstur yang lengket dan padat.

Wajik sering dijumpai dalam berbagai acara tradisional seperti pernikahan dan hajatan, serta sering dijadikan oleh-oleh khas daerah.

4. Getuk Lindri

Pada masa kolonial, getuk lindri menjadi makanan rakyat jelata. Kue ini dibuat dari singkong sebagai alternatif pangan saat beras langka.

Getuk lindri berasal dari Jawa Tengah, khususnya Magelang dan Yogyakarta, nama “lindri” merujuk pada tekstur halus setelah digiling.

Getuk lindri umum disajikan saat hajatan, seperti pernikahan atau khitanan, serta sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta.

Baca Juga: Cuaca Panas? Segarkan dengan Es Alpukat Susu yang Creamy dan Lezat seperti di Kafe

5. Kue Apem

Kue apem terbuat dari tepung beras, santan, dan gula, seringkali dengan tambahan ragi atau tape, dan dimasak dengan cara dikukus atau dipanggang.

Kue ini memiliki makna filosofis yang dalam dalam budaya Jawa sering dikaitkan dengan permohonan maaf dan pengampunan.

Biasanya disajikan dalam acara selamatan, syukuran, dan kenduri, serta dalam tradisi menyambut bulan Ramadan seperti Megengan.

6. Nagasari

Kue nagasari adalah kue basah tradisional Indonesia, khususnya dari Jawa yang terbuat dari adonan tepung beras dan dibungkus daun pisang.

Kue ini dikukus hingga matang, sehingga menghasilkan tekstur yang lembut dan rasa yang manis khas.

Nagasari disajikan saat selamatan, pernikahan, atau sebagai jajanan pasar harian. Kue ini melambangkan kelembutan dan keharmonisan keluarga.

Itu tadi beberapa kue tradisional yang masih popular hingga saat ini. Semuanya adalah adalah warisan budaya yang patut dilestarikan.

Dan setiap kue membawa cerita sejarah, makna budaya, dan kelezatan yang tak tergantikan. (dce)

Editor : Mizan Ahsani
#klepon #sejarah #kue tradisional #apem #jawa