Jawa Pos Radar Madiun – Getuk, jajanan pasar khas Jawa yang terbuat dari singkong, memang tak pernah kehilangan tempat di hati para pecinta kuliner tradisional.
Teksturnya yang lembut, rasa manis alami dari singkong dan gula, serta taburan kelapa parut yang gurih, menjadikan getuk sebagai camilan legendaris yang menggugah selera, bahkan di tengah gempuran jajanan kekinian.
Meski sering dijumpai di pasar tradisional, getuk juga bisa dibuat sendiri di rumah. Prosesnya sederhana, bahannya mudah didapat, dan hasilnya bisa disesuaikan selera keluarga.
Mulai dari warna-warni menarik hingga aroma vanila yang khas, getuk buatan rumah tetap mampu menciptakan nuansa nostalgia yang hangat.
Untuk membuat getuk yang enak dan lembut, gunakan singkong segar yang tidak terlalu tua agar hasil akhirnya tidak berserat.
Setelah direbus dan dihaluskan, adonan singkong dicampur dengan gula, garam, dan sedikit vanili bubuk.
Pewarna makanan bisa ditambahkan jika ingin tampilan getuk yang lebih ceria, seperti warna merah muda, hijau, atau kuning.
Adonan kemudian dicetak dalam loyang, dipadatkan, dan dipotong sesuai selera—baik bentuk kotak klasik maupun segitiga.
Sementara itu, kelapa parut yang telah dikukus bersama daun pandan dan sedikit garam menjadi pelengkap utama saat getuk disajikan.
Aroma pandan berpadu dengan gurihnya kelapa menciptakan sensasi rasa yang khas dan autentik.
Menurut Sulastri, pedagang getuk keliling asal Ponorogo, rahasia getuk yang nikmat ada pada pemilihan singkong dan kelapa yang segar.
“Kalau singkongnya lembek dan kelapanya tua, hasilnya pasti beda. Saya masih pakai resep turun-temurun dari mbah,” ujarnya sambil memotong getuk dengan bentuk segitiga simetris.
Menariknya, getuk juga bisa disimpan di kulkas untuk konsumsi 1–2 hari ke depan.
Bahkan bisa dikreasikan ulang sebagai isian kue, atau disajikan dengan topping keju dan susu kental manis agar tampil lebih modern.
Dengan biaya yang terjangkau, camilan ini cocok disajikan saat arisan, pengajian, atau sekadar teman ngeteh sore di rumah.
Getuk singkong bukan sekadar makanan, tapi juga simbol kehangatan, kenangan masa kecil, dan rasa cinta pada tradisi kuliner Indonesia.
Cobalah membuatnya di rumah, dan rasakan kembali kelezatan sederhana yang tak lekang oleh waktu. (rif/kid)
Editor : Nur Wachid