Jawa Pos Radar Madiun – Dalam khazanah kuliner Indonesia yang sarat cita rasa kompleks, sambal bukan sekadar pelengkap.
Tapi jiwanya hidangan, pemantik selera, dan simbol kearifan lokal dalam memadukan bumbu alami.
Salah satu varian sambal tradisional yang mulai jarang dikenal adalah sambal belimbing wuluh, resep lawas yang tercatat dalam buku legendaris Mustikarasa, warisan kuliner era Presiden Soekarno.
Berbeda dari sambal pada umumnya, sambal belimbing ini bukan sambal mentah atau sambal goreng biasa.
Cita rasanya lebih kompleks: asam tajam dari belimbing wuluh, gurih lembut dari santan kelapa, dan wangi khas dari sereh dan laos yang ditumis perlahan.
Bukan sekadar pedas, sambal ini menawarkan kedalaman rasa yang menyegarkan sekaligus menantang.
Berikut ini resep sambal belimbing dari buku Mustikarasa.
Bahan utama:
Belimbing wuluh: 15 buah, iris tipis
Kelapa parut: 1 butir, peras menjadi santan kental
Bumbu halus:
Bawang merah: 2 butir
Bawang putih: 2 siung
Cabai merah (lombok merah): 3 buah
Serai: 1 batang, memarkan
Laos: 1 iris
Garam: 1 sendok makan (untuk meremas belimbing & bumbu)
Cara Membuat:
1. Siapkan belimbing wuluh: Cuci bersih dan iris tipis, kemudian remas dengan sedikit garam hingga air asamnya keluar. Buang airnya agar tidak terlalu tajam dan mengganggu rasa santan.
2. Buat santan: Parut kelapa dan peras untuk mendapatkan santan kental. Gunakan santan segar agar rasa gurihnya maksimal dan tidak pecah saat dimasak.
3. Tumis bumbu: Haluskan bawang merah, bawang putih, dan cabai merah. Tumis bumbu bersama serai dan laos hingga harum dan berwarna kuning keemasan.
4. Masukkan belimbing dan santan: Tambahkan irisan belimbing dan tuang santan ke dalam tumisan. Aduk perlahan dan terus-menerus agar santan tidak pecah. Masak dengan api kecil hingga sambal matang, mengental, dan minyak naik ke permukaan.
5. Sajikan: Sambal belimbing wuluh siap disajikan sebagai pendamping nasi hangat, ikan goreng, atau tempe bacem.
Sambal ini tidak hanya membangkitkan selera, tetapi juga menjadi bukti bahwa kuliner Indonesia kaya akan sambal yang tidak hanya dibakar lidah, tapi juga dimanjakan rasa.
Sayangnya, sambal belimbing seperti ini mulai jarang ditemui di rumah makan atau warung-warung tradisional.
Banyak generasi muda yang tak mengenalnya, padahal resepnya tercatat rapi dalam Mustikarasa, buku yang menjadi penanda kehebatan kuliner Nusantara. (dew/cor)
Editor : Andi Chorniawan